Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp18.000 per Dolar AS

  • 04 Jun 2026 11:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah akhir tembus ke level Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis 4 Juni 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis 4 Juni 2026. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp18.023 per dolar AS.

Kemerosotan rupiah yang berlanjut ini sudah diprediksi oleh sejumlah analis. “Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS,” kata analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Menurut dia, greenback atau olar AS menguat karena meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Indeks dolar AS pun saat ini bergerak pada rentang 99,44-99,52 atau menguat 0,30 persen dibandingkan sebelumnya.

Selain gejolak di Timur Tengah, data mengenai pekerjaan dan sektor jasa di AS juga ikut mendorong penguatan dolar. Misalnya data terkait pekerjaan Automatic Data Processing (ADP) dan sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) yang lebih kuat dari perkiraan.

Laporan bulanan lembaga manajemen ketenagakerjaan ADP menyebutkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta pada Mei 2026 mencapai 122 ribu. Angka tersebut merupakan peningkatan terbesar sejak Januari 2025.

Menurut Lukman, entimen terhadap mata uang rupiah memang masih buruk. Sehingga, menurut dia, rupiah kembali mendekati level psikologi baru.

“Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan melakukan intervensi secara agresif,” ucapnya. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS.

Analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mengatakan faktor domestik menjadi sumber utama tekanan pasar. “Ini di luar permintaan terhadap dolar secara musiman,” ujarnya.

Menurut Jessica, salah satu pemicu pelemahan rupiah adalah meningkatnya kekhawatiran tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN) pascapergantian pimpinan. “Demikian pula dengan outlook negatif Moody’s terhadap Danantara,” ujarnya.

Di sisi lain, Jessica menilai pasar obligasi justru bersifat resilien. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun menjadi 6,7 persen dan tenor dua tahun naik menjadi 6,82 persen.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga daya tarik imbal hasil tenor pendek Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Di samping spread yang melebar antara obligasi Pemerintah AS dan obligasi Pemerintah Indonesia (INDOGB) di atas 270 basis poin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....