Penutupan Perdagangan, Rupiah Terpuruk ke Level Rp17.966 per Dolar AS
- 03 Jun 2026 19:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah makin terpuruk terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup 0,71 persen atau 127 poin ke level Rp17.966 per dolar AS
- Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih memantau perkembangan di Timur Tengah. Iran melakukan serangan ke basis militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sementara pasukan AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm di Iran
- Kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mendorong spekulasi kenaikan suku bunga the Fed. Pasar saat ini memperkirakan Fed akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan di bulan Juni
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah makin terpuruk terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup 0,71 persen atau 127 poin ke level Rp17.966 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih memantau perkembangan di Timur Tengah. Meski Lebanon menyebut Zionis Israel dan Hizbullah sepakat gencatan senjata parsial, tapi konflik AS-Iran masih memanas.
“Iran melakukan serangan ke basis militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sementara pasukan AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm di Iran,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Rabu, 3 Juni 2026.
Kondisi itu membuat prospek negosiasi damai antara AS dan Iran makin jauh dari harapan. Yang muncul justru situasi yang menimbulkan ketidakpastian dan lonjakan harga minyak.
“Kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mendorong spekulasi kenaikan suku bungac Pasar saat ini memperkirakan Fed akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan di bulan Juni,” ujar Ibrahim.
Pelaku pasar juga akan mencermati serangkan indikator perekonomian AS yang akan dirilis pekan ini. Diantaranya laporan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP), survei jasa Institute for Supply Management (ISM) dan data pesanan pabrik.
Selain itu, laporan tenaga kerja non-pertanian atau non-farm payrolls di akhir pekan, juga dinantikan para investor. Di dalam negeri, Ibrahim mencermati pelemahan rupiah karena meningkatnya inflasi pada Mei 2026 menjadi 0,28 persen secara bulanan.
Inflasi pada Mei 2026 dipicu oleh kenaikan inflai pangan dan kenaikan harga yang diatur pemerintah (harga energi). Nilai tukar rupiah yang teris merosot juga mempengaruhi laju inflasi.
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia kembali membukukan surplus di bulan Mei 2026. Meskipun surplusnya menyusut dibandingkan bulan sebelumnya.
“Surplus yang menyempit menandakan adanya tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal . Penyebabnya karena tersendatnya pasokan global di Selat Hormuz yang masih diblokade oleh Iran,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....