BPSDM Hukum: Pancasila Harus jadi Kompas Moral Bangsa
- 30 Mei 2026 09:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gusti Ayu Putu Suwardani menegaskan Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga jiwa bangsa dan kompas moral dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.
- Indonesia dinilai memiliki kemajemukan yang menjadi kekayaan nasional, sehingga Pancasila harus terus hadir sebagai perekat toleransi, harmoni, dan persatuan bangsa.
- Edward Omar Sharif Hiariej menyebut Pancasila menjadi jembatan antara martabat manusia dan kepercayaan sosial yang memperkuat persatuan masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPSDM Hukum, Gusti Ayu Putu Suwardani menegaskan bahwa Pancasila berfungsi sebagai kompas moral dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus terus menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai perubahan global.
Ia mengatakan Pancasila berperan penting menjaga arah pembangunan nasional agar tetap berlandaskan nilai kemanusiaan. Karena itu, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial harus hadir dalam setiap kebijakan, maupun kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara saja. Tetapi juga merupakan jiwa bangsa dan kompas moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya dalam diskusi 'Merajut Kebersamaan: Nilai Pancasila sebagai Jiwa Pemersatu Bangsa' via daring, Jumat, 29 Mei 2026.
Ia menjelaskan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi di dunia. Keragaman tersebut tercermin dari ratusan suku, bahasa, serta kehidupan beragama yang hidup berdampingan dalam harmoni.
| Baca juga: Toleransi dan Keberagaman Dinilai DNA Bangsa |
Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini hidup bersama dalam enam agama yang diakui negara. Serta lebih dari 180 aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman dapat dirawat sebagai kekuatan bangsa. Ia menilai kemajemukan merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Oleh karena itu, Pancasila harus terus hadir sebagai perekat persatuan yang memperkuat toleransi, harmoni, dan semangat kebangsaan. "Pancasila harus hadir pada setiap momen sebagai perekat persatuan yang menguatkan toleransi, harmoni, dan semangat kebangsaan," katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa dalam menjaga keberagaman. Tantangan tersebut antara lain politik identitas, intoleransi, diskriminasi, serta ketimpangan sosial dan ekonomi antarwilayah.
Menurutnya, seluruh tantangan tersebut perlu dihadapi dengan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Ia optimistis persatuan dan harmoni yang terjaga akan menjadi modal penting menuju visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Wakil Menteri Hukum, Edward Omar Sharif Hiariej menyoroti makna besar dalam peringatan hari Lahir Pancasila. Menurutnya, Pancasila menjadi jembatan emas yang mempertemukan nilai martabat manusia dan kepercayaan sosial bangsa Indonesia bersama.
Ia mengatakan sila kedua Pancasila menegaskan pentingnya kemanusiaan adil dan beradab sebagai bentuk penghormatan martabat manusia bersama. Ia mengatakan penghormatan terhadap martabat manusia akan memperkuat persatuan serta melahirkan kepercayaan sosial yang kokoh dalam masyarakat.
"Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, merupakan penegasan atas human dignity. Ketika martabat manusia dihormati, maka persatuan sebagaimana sila ketiga akan terwujud dan melahirkan social trust yang kokoh," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....