Cegah Pencemaran Lingkungan, Penanganan Limbah Kurban Harus Ditangani Khusus

  • 28 Mei 2026 11:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pakar IPB mengingatkan limbah kurban harus ditangani khusus sesuai jenis dan lokasi pengelolaannya.
  • Limbah penyembelihan hewan kurban memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi dibanding limbah area penjualan.
  • Feses ternak dan sisa pakan kurban dapat diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB), Salundik mengingatkan limbah kurban harus ditangani secara khusus berdasarkan jenis dan lokasi pengelolaannya. Penanganan yang tepat dinilai penting untuk mencegah pencemaran lingkungan serta risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, limbah kurban terbagi menjadi dua kategori utama, yakni limbah di area penjualan dan area penyembelihan hewan. Masing-masing jenis limbah memiliki karakteristik berbeda sehingga memerlukan metode penanganan yang berbeda pula.

“Limbah di lokasi penjualan umumnya berupa kotoran dan sisa pakan hijauan. Karena ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Iduladha, akumulasinya menjadi sangat masif,” ujar Salundik dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menjelaskan limbah di area penjualan umumnya berasal dari feses ternak dan sisa pakan hijauan selama masa penampungan hewan. Sebagai gambaran, 50 ekor sapi dapat menghasilkan hingga 20 ton limbah selama masa penjualan berlangsung.

“Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” katanya. Limbah tersebut meliputi darah, isi rumen, hingga saluran pencernaan hewan kurban.

Salundik mendorong masyarakat memanfaatkan limbah organik dari area penjualan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Menurutnya, feses ternak dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos maupun vermikompos.

“Feses dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos atau vermikompos. Ini menjadi solusi praktis sekaligus memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui pengelolaan limbah di area penyembelihan masih menjadi tantangan, terutama di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan lahan, jumlah ternak yang tidak pasti, serta lokasi penyembelihan yang tersebar.

Karena itu, Salundik menilai pengelolaan limbah kurban memerlukan pendekatan yang lebih terencana dan terkoordinasi. Menurutnya, pengelolaan yang tepat dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung praktik ekonomi sirkular berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....