Pakar Lingkungan Ingatkan Pentingnya Edukasi Pengelolaan Limbah Kurban

  • 28 Mei 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pakar lingkungan UNAIR mengingatkan pentingnya edukasi pengelolaan limbah kurban untuk mencegah pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.
  • Limbah kurban harus dikelola sesuai aturan lingkungan dan dijauhkan dari sumber air masyarakat.
  • Menteri Agama menekankan menjaga lingkungan menjadi bagian penting dari implementasi kesalehan sosial dan spiritual.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Kesehatan Lingkungan Universitas Airlangga, Dr Corie Indria Prasasti mengingatkan pentingnya edukasi pengelolaan limbah kurban kepada masyarakat. Edukasi dinilai penting agar pelaksanaan Iduladha tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun gangguan kesehatan warga.

Menurut Corie, limbah penyembelihan hewan kurban harus dikelola sesuai aturan perlindungan lingkungan hidup yang berlaku. Ia mengatakan limbah kurban tidak boleh dibuang sembarangan, terutama di dekat sumber air masyarakat.

“Edukasi itu seharusnya tidak hanya untuk panitia kurban saja, tetapi juga masyarakat umum. Hal itu supaya semua ikut menjaga lingkungan tetap aman dan sehat,” ujar Corie dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Corie menjelaskan limbah kurban terdiri dari limbah cair seperti darah dan limbah padat berupa isi perut hewan. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Menurutnya, pengelolaan limbah kurban telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Karena itu, limbah kurban harus ditempatkan di lokasi khusus dengan jarak aman dari sumber mata air maupun saluran air.

“Prinsipnya limbah memang boleh dikubur, tetapi harus di tempat khusus. Tidak boleh dekat dengan sumber air supaya tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari,” katanya.

Ia menilai tantangan terbesar pengelolaan limbah kurban berada pada kondisi lahan penyembelihan yang berbeda-beda di setiap wilayah. Tidak semua masjid atau lokasi penyembelihan memiliki area khusus untuk pengelolaan limbah secara aman.

Karena itu, Corie mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dinas kesehatan, lingkungan hidup, hingga pengurus masjid. Menurutnya, kerja sama tersebut penting agar pelaksanaan kurban tetap aman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Kita harus sama-sama ikut menjaga. Jangan hanya panitia saja, tetapi masyarakat juga perlu ikut andil memastikan lingkungan tetap aman, bersih, dan sehat setelah proses kurban selesai,” ujarnya.

Senada dengan pernyataan Menteri Agama, Nasaruddin Umar di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Rabu 27 Mei 2026. Menag mengatakan momentum Iduladha 1447 Hijriah menjadi refleksi untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan nilai kesetaraan antarmanusia.

Menurutnya, ajaran agama juga menekankan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual. “Alam ini jangan hanya dijadikan objek saja, tetapi juga harus dianggap sebagai subjek,” ujarnya.

Tanpa alam semesta, lanjut dia, manusia tidak mungkin menjadi pribadi yang ideal. Dalam konsep ekoteologi, diajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah), sesama manusia (habluminannas), dan alam semesta (hablum ma’al makhluqat).

Menurut Nasaruddin, kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kualitas kehidupan dan ibadah manusia. Karena itu, lanjut dia, menjaga alam menjadi bagian dari implementasi kesalehan sosial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....