Wajib Tahu, Ini Sederet Dampak Limbah Kurban Terhadap Lingkungan

  • 28 Mei 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pakar UNAIR mengingatkan limbah kurban dapat mencemari lingkungan bila tidak dikelola dengan benar.
  • Limbah darah dan isi perut hewan berisiko mencemari sumber air serta memicu penyebaran bakteri.
  • Edukasi sanitasi dan kolaborasi masyarakat dinilai penting menjaga lingkungan tetap sehat saat Iduladha.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas penyembelihan hewan kurban saat Iduladha berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila limbah tidak dikelola dengan baik. Karena itu, masyarakat diimbau memahami dampak paparan limbah kurban terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar.

Mengutip dari laman Universitas Airlangga, Pakar Kesehatan Lingkungan, Corie Indria Prasasti mengatakan limbah kurban terdiri dari limbah cair dan limbah padat. Limbah cair terdiri dari darah dan limbah padat dapat berupa isi perut hewas.

Menurutnya, limbah tersebut dapat mencemari sumber air apabila dibuang sembarangan. “Jika limbah ini dibuang sembarangan, misalkan langsung dibuang ke sumber mata air atau sungai tanpa pengelolaan yang benar, itu berbahaya,” kata Corie.

Ia menjelaskan pengelolaan limbah kurban telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam aturan tersebut, limbah penyembelihan harus ditempatkan di lokasi khusus dengan jarak aman dari sumber air.

Menurut Corie, limbah kurban memang diperbolehkan dikubur, tetapi tidak boleh berada dekat sumur maupun saluran air warga. Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya masalah kesehatan di kemudian hari.

Berikut dampak paparan limbah kurban yang perlu dipahami masyarakat:

1. Mencemari sumber air

Limbah darah dan isi perut hewan dapat mencemari sungai maupun sumur warga jika dibuang sembarangan. Air tercemar berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

2. Menimbulkan bau tidak sedap

Penumpukan limbah organik tanpa pengelolaan dapat menghasilkan bau menyengat di lingkungan permukiman. Kondisi tersebut juga mengganggu kenyamanan warga saat Iduladha.

3. Mengundang lalat dan bakteri

Limbah kurban yang terbuka berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya lalat serta bakteri berbahaya. Situasi ini dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

4. Memicu pencemaran lingkungan

Pembuangan limbah cair langsung ke saluran air dapat merusak kualitas lingkungan sekitar tempat penyembelihan. Dampaknya juga dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Corie menilai tantangan terbesar pengelolaan limbah kurban berasal dari keterbatasan lahan di sejumlah lokasi penyembelihan. Tidak semua masjid maupun tempat kurban memiliki area khusus pengelolaan limbah dengan jarak aman dari sumber air.

Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, dinas kesehatan, peternakan, lingkungan hidup, hingga pengurus masjid. Menurutnya, kerja sama lintas sektor penting agar pelaksanaan kurban tetap aman bagi masyarakat dan lingkungan.

Selain itu, Corie juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai sanitasi dan pengelolaan limbah selama Iduladha. “Edukasi itu seharusnya tidak hanya untuk panitia kurban saja, tetapi juga masyarakat umum,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat ikut menjaga kebersihan lingkungan selama proses penyembelihan hewan kurban berlangsung. Dengan pengelolaan limbah yang baik, pelaksanaan Iduladha diharapkan tetap aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....