BPS: Harga Beras Premium dan Medium Naik Tipis
- 27 Mei 2026 05:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPS catat harga beras medium dan premium naik tipis
- Harga beras medium nasional naik 0,12 persen pada Mei 2026
- Harga beras premium nasional naik 0,41 persen dibanding April
- Rata-rata harga beras medium capai Rp14.344 per kilogram
- Harga beras premium nasional tercatat Rp16.149 per kilogram
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras medium dan premium naik minggu ketiga Mei 2026. Kenaikan harga beras nasional masih relatif kecil (tipis) dibanding April 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan harga beras medium naik 0,12 persen. Rata-rata harga beras medium nasional kini mencapai Rp14.344 per kilogram.
Beras premium adalah jenis beras dengan kualitas terbaik. Beras ini mengandung nutrisi yang baik, selain karbohidrat. Sedangkan beras medium adalah beras dengan standar mutu sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Beras ini mutunya dibawah beras premium.
Sementara itu, harga beras premium naik sebesar 0,41 persen dibanding April 2026. Rata-rata harga beras premium nasional tercatat sebesar Rp16.149 per kilogram.
“Beras medium naik 0,12 persen dibanding April. Beras premium naik 0,41 persen,” kata Pudji dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Senin 25 Mei 2026.
Berdasarkan seluruh kategori kualitas beras, BPS mencatat perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi terjadi di Papua Barat. Harga beras di Papua Barat mencapai Rp17.899 per kilogram dengan kenaikan IPH sebesar 2,11 persen.
Kenaikan IPH beras juga terjadi di Sulawesi Barat sebesar 1,73 persen. Sementara Kalimantan Timur mengalami kenaikan sebesar 1,46 persen.
Selain itu, Kalimantan Barat mencatat kenaikan IPH sebesar 1,15 persen. DKI Jakarta juga mengalami kenaikan IPH beras sebesar 0,97 persen.
Di sisi lain, beberapa provinsi mengalami penurunan IPH beras. Penurunan terjadi di Bali sebesar minus 1,09 persen dan Papua Barat Daya minus 0,61 persen.
BPS juga mencatat terdapat 114 kabupaten dan kota mengalami kenaikan IPH beras hingga minggu ketiga Mei 2026. Kabupaten Mahakam Ulu mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,02 persen.
| Baca juga: GPM Bantu Warga Cariu Dapat Pangan Murah |
Kenaikan IPH beras juga terjadi di Pegunungan Bintang sebesar 5,76 persen. Sementara Kota Botang mengalami kenaikan sebesar 5,22 persen.
Sementara itu, Perum Bulog menyatakan memperbanyak suplai beras ke Papua dan Indonesia Timur untuk menekan harga. Penyaluran diprioritaskan ke pasar rakyat dan pusat pangan pemerintah daerah.
Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, mengatakan distribusi melalui pasar rakyat. "Ini untuk menekan laju kenaikan harga beras,” kata Wawan.
Menurut Wawan, Bulog berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait dalam pengendalian harga beras. Distribusi difokuskan di Papua dan wilayah timur Indonesia lainnya.
Berdasarkan paparan Bulog, penyaluran beras SPHP di Papua mencapai 5.766 ton. Sementara bantuan pangan yang telah disalurkan di Papua mencapai 8.699 ton.
Beras SPHP (Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan) adalah bantuan beras untuk mengendalikan harga pangan. Beras SPHP dikelola oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan distribusikan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog).
Bulog juga mencatat persediaan beras di Papua mencapai 22.229 ton. Sedangkan pengadaan beras di wilayah tersebut mencapai 2.736 ton.
Secara nasional, penyaluran beras SPHP kini mencapai 5.000 hingga 7.000 ton per hari. Angka itu meningkat dibanding sebelumnya sekitar 3.000 hingga 4.000 ton per hari.
Bulog juga menggencarkan penyaluran pangan di sejumlah wilayah Papua. Distribusi dilakukan di Intan Jaya, Tolikara, Tambrauw, Teluk Bintuni, Pegunungan Bintang, dan Manokwari Selatan.
Di Intan Jaya, Bulog berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah terkait subsidi angkutan. Distribusi pangan ke wilayah tersebut dilakukan menggunakan pesawat dari Nabire.
Sementara di Tolikara, penyaluran SPHP dilakukan bersama TNI dan Polri. Langkah itu dilakukan karena lokasi gudang Bulog cukup jauh dari wilayah tujuan distribusi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....