BPS Soroti Potensi Inflasi saat Iduladha

  • 26 Mei 2026 06:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPS soroti potensi inflasi saat momen Iduladha
  • Inflasi Iduladha umumnya didominasi kelompok makanan dan harga bergejolak
  • Cabai rawit dan cabai merah jadi penyumbang utama kenaikan harga
  • BPS mencatat Iduladha hampir selalu diikuti inflasi sejak 2022
  • Iduladha 2024 menjadi satu-satunya periode yang mengalami deflasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi pada momen Hari Raya Iduladha umumnya didominasi kelompok makanan dan harga bergejolak. Komoditas cabai rawit dan cabai merah menjadi penyumbang utama kenaikan harga.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan secara historis Iduladha hampir selalu diikuti inflasi. Kondisi berbeda hanya terjadi pada Iduladha 2024 yang mengalami deflasi.

“Pada momen Hari Raya Idul Adha, kalau kita lihat series sejak 2022 hingga 2025, terlihat bahwa secara umum pada momen Idul Adha terjadi inflasi. Kecuali pada Idul Adha di tahun 2024, di mana pada tahun tersebut terjadi deflasi,” katanya dalam Rakor Pengendalian Inflasi 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Menurut Pudji, tingkat inflasi Iduladha umumnya lebih rendah dibanding Ramadan dan Idulfitri. Hal tersebut terlihat dari historis inflasi nasional sejak 2022.

“Sejak tahun 2022 hingga 2025. Tingkat inflasi pada momen Hari Raya Idul Adha ini biasanya lebih rendah dibandingkan dengan inflasi yang terjadi di momen Ramadan maupun di momen Hari Raya Idul Fitri,” ucapnya.

Ia menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi saat Iduladha. Kondisi tersebut terjadi hampir setiap tahun kecuali pada 2024.

Selain itu, komponen harga bergejolak juga menjadi penyumbang utama inflasi Iduladha. Sementara deflasi terbesar tercatat terjadi pada Iduladha 2024.

“Kemudian kalau kita lihat menurut komponen. Komponen harga bergejolak ini menyumbang andil inflasi terbesar pada momen Hari Raya Idul Adha di tahun 2022 dan 2025,” ucapnya.

Lebih lanjut, Pudji mengatakan inflasi Iduladha banyak dipicu komoditas pangan dari kelompok harga bergejolak. Komoditas yang paling sering mendorong inflasi ialah cabai rawit dan cabai merah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir meminta pengendalian inflasi tetap menjaga keseimbangan harga. Menurutnya, harga tidak boleh terlalu rendah hingga merugikan petani dan peternak.

“Jadi kewajiban kita pada saat rapat koordinasi inflasi ini bukan hanya supaya harga turun serendah-rendahnya. Namun, demikian ada juga batas serendah yang dapat mengakibatkan peternak itu merugi atau gulung tikar,” katanya.

“Nah, ini kewajiban kita untuk menjaga agar produsen atau pembeli itu membeli tidak terlalu mahal. Tetapi petani dan peternak juga menjual tidak terlalu mahal, tapi juga tidak jatuh sehingga dia merugi,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....