Cerita Herman Saat Ditahan Tentara Israel: Banyak Relawan Mengalami Cedera Berat
- 24 Mei 2026 21:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Herman Budianto menyebut banyak relawan Global Sumud Flotilla mengalami cedera berat selama ditahan militer Israel.
- Relawan Indonesia mengungkap dugaan penyiksaan brutal dan perlakuan tidak manusiawi selama masa penahanan berlangsung.
- Herman menyebut para relawan dipaksa merangkak, menunduk, hingga tidur tanpa selimut dalam kondisi basah.
RRI.CO.ID, Tangerang - Relawan asal Indonesia, Herman Budianto menceritakan dugaan kekerasan selama penahanan oleh militer Israel terhadap peserta Global Sumud Flotilla. Herman menyebut banyak relawan mengalami luka berat sejak proses penangkapan hingga masa penahanan berlangsung.
“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah. Ada sekitar 40 orang patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak, dan seterusnya,” ujar Herman dalam keterangan pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026.
Menurut Herman, sejumlah relawan internasional mengalami cedera dengan tingkat keparahan berbeda selama berada dalam penahanan militer Israel. Ia menyebut beberapa relawan mengalami patah tulang hingga luka akibat tindakan kekerasan fisik langsung.
“Bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, sangat keji, sangat brutal. Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar empat hari, melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” ucapnya.
Herman juga mengungkapkan adanya dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah relawan selama masa penahanan berlangsung. Dugaan tindakan tersebut disebut dialami relawan laki-laki maupun perempuan yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional tersebut.
Selain mengalami kekerasan fisik, Herman menggambarkan kondisi penahanan yang menurutnya sangat tidak manusiawi bagi para relawan. Ia mengatakan seluruh relawan diperlakukan secara ketat dalam kondisi fisik yang sudah sangat terbatas.
“Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya, diperlakukan seperti hewan. Kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami,” kata Herman.
Herman menceritakan mereka disebut tidak diperbolehkan menatap langsung petugas selama menjalani masa penahanan di lokasi tersebut. "Kami harus berjalan dengan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka,” ujarnya.
Kondisi tempat penahanan juga disebut Herman sangat memprihatinkan bagi para relawan kemanusiaan internasional tersebut. “Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, tidak ada, dalam kondisi basah dan baju basah,” ucap Herman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....