Sembilan Relawan Misi Kemanusiaan Gaza Tiba Sore Ini
- 24 Mei 2026 20:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Para relawan sebelumnya ditangkap aparat Israel saat membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza melalui perairan Mediterania.
- Blokade bantuan kemanusiaan melalui jalur laut dan darat disebut masih terjadi dan memperburuk kondisi warga Gaza.
- Redaksi Republika berencana membuat laporan investigasi khusus setelah kondisi psikologis para jurnalis memungkinkan.
- Sembilan relawan Global Sumud Flotilla dijadwalkan tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 24 Mei 2026 pukul 15.30 WIB setelah dipulangkan dari Israel.
RRI.CO.ID, Jakarta – Sembilan anggota misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dijadwalkan tiba di Indonesia, Minggu, 24 Mei 2026. Mereka akan mendarat melalui Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 15.30 WIB setelah dipulangkan dari Israel.
Para relawan sebelumnya ditangkap aparat Israel saat membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza melalui perairan Mediterania. Mereka tergabung bersama ratusan delegasi internasional dalam misi solidaritas untuk warga Palestina di Gaza.
Beberapa jurnalis Indonesia ikut dalam rombongan relawan tersebut. Mereka di antaranya wartawan Republika Bambang Noroyono, Thoudy Badai, serta jurnalis Tempo TV Andre Prasetyo Nugroho.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Turki mendampingi proses pemulangan seluruh relawan Indonesia. Pendampingan dilakukan sejak para relawan dibebaskan hingga kembali menuju Indonesia.
Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Stevy Maradona mengonfirmasi bahwa tim penjemput dari pihak manajemen kantor, serta perwakilan keluarga relawan sudah berangkat menuju bandara. Pesawat yang membawa para pejuang kemanusiaan tersebut dilaporkan terbang sesuai jadwal dan terpantau sedang melintasi wilayah Sumatera Utara.
Manajemen media massa nasional telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai lembaga filantropi untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan fisik para korban. Otoritas kesehatan di Istanbul Turki juga sempat melakukan pemeriksaan medis menyeluruh sebelum memberikan izin penerbangan pulang kepada seluruh relawan.
Stevy mengungkap informasi awal mengenai kondisi fisik para jurnalis nasional yang mengalami tindakan kekerasan oleh tentara Zionis. Pihak redaksi sempat berkomunikasi secara langsung menggunakan fasilitas panggilan video interaktif yang disediakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia.
"Baru setelah itu dari bandara di Istanbul, Turki, dijemput oleh KJRI di Istanbul. Nggak lama kemudian kita bisa live video chat, video itu langsung sama Abeng pakai saranannya dari KJRI, baru dikasih tahu di situ oke, sehat, sehat, Alhamdulillah. Walaupun ikut di aniaya ya, dipukuli, ditendang," kata Stevy dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Minggu, 24 Mei 2026.
Tindakan penganiayaan berupa pukulan dan tendangan tersebut mengakibatkan luka memar pada bagian tangan, punggung, serta kaki para jurnalis. Bahkan salah satu jurnalis dari media Tempo TV dilaporkan mendapatkan siksaan keji berupa sengatan listrik pada bagian kaki.
Lembaga filantropi Dompet Dhuafa berkomitmen menyediakan layanan konseling psikologis gratis untuk memulihkan trauma yang dialami oleh para korban. Program pendampingan kesehatan mental ini juga menyasar anggota keluarga inti relawan guna menghapus dampak buruk akibat ketegangan tersebut.
Redaksi Republika menegaskan bahwa isu kemanusiaan di Jalur Gaza tetap menjadi fokus pemberitaan utama media massa nasional hingga saat ini. Kehadiran jurnalis di lapangan sangat penting untuk menyuarakan penderitaan warga Palestina yang terus mengalami penindasan oleh pihak militer.
"Karena poinnya dari peristiwa ini adalah jangan lupa, bukan cuma kedatangan relawannya atau setelah pembebasan setelah diculik, bahwa situasinya masih sama di Gaza. Blokade bantuan itu real, rakyat Gaza itu tidak mendapat bantuan secara semestinya, mereka masih sengsara, kekurangan bantuan medis, kekurangan bantuan kesehatan, kekurangan dokter, dan kekurangan bantuan makanan sehari-hari. Ini masih real,” ungkapnya.
Tragedi pencegatan kapal logistik membuktikan bahwa blokade bantuan kemanusiaan lewat jalur laut maupun jalur darat masih terus terjadi. Kondisi tersebut memperparah krisis pangan serta menyebabkan ribuan warga sipil Palestina menderita di dalam fasilitas penjara Israel.
Pihak panitia Global Peace Corps Indonesia telah memberikan pembekalan taktis yang komprehensif kepada para relawan sebelum kapal berlayar. Materi pelatihan tersebut mencakup panduan keselamatan diri saat menghadapi situasi darurat termasuk prosedur komunikasi ketika terjadi intersepsi militer.
"Kalau dari Redaksi, bekalnya tentu bagaimana peliputan di wilayah konflik, secara umum ya. Tapi yang kita terima kasih, sama kita salut dari teman-teman GPCI, yaitu Global Peace Corps Indonesia, Panitia Lokal, maupun dari teman-teman di Global Sumud Flotilla, jadi sebelum mereka naik kapal itu memang mungkin ada 2-3 kali pembekalan di sana," ujarnya.
Pihak manajemen redaksi berencana menyusun laporan investigasi khusus mengenai kesaksian langsung para jurnalis setelah kondisi psikologis mereka stabil. Publik nasional sangat menantikan kronologi utuh peristiwa pencegatan kapal kemanusiaan yang diluncurkan oleh delegasi lintas negara tersebut. (Sarah Maulida Ali)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....