Soal Pidato Presiden, BAKN DPR: APBN Alat Memperkokoh Sendi-Sendi Negara

  • 21 Mei 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron mengaku, optimisme terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
  • APBN adalah alat untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkokoh sendi-sendi negara, dan alat untuk mensejahterakan rakyat
  • Target pertumbuhan ekonomi tersebut tentu bukan hal mudah di tengah ketidakpastian global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron mengaku, optimisme terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Terutama, setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027.

Pidato Presiden Prabowo, menurutnya, menegaska APBN bukan sekadar dokumen administratif. Melainkan instrumen strategis untuk melindungi rakyat dan memperkuat fondasi negara.

“APBN adalah alat untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkokoh sendi-sendi negara, dan alat untuk mensejahterakan rakyat,” kata politikus Demokrat ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Di satu sisi, ia menilai, target ekonomi yang dipatok pemerintah untuk 2027 memang menantang. Namun, tetap realistis jika dibarengi strategi agresif dan konsisten.

Diketahui, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen pada tahun 2026. Yakni, dengan pendapatan negara sebesar 11,82–12,40 persen dari PDB, sementara belanja negara diproyeksikan berada kisaran 13,62–14,80 persen dari PDB.

“Target pertumbuhan ekonomi tersebut tentu bukan hal mudah di tengah ketidakpastian global. Namun kami yakin pemerintah memiliki cara dan strategi yang agresif untuk mencapainya,” ucap anggota Komisi VI DPR ini.

Kemudian, ia juga menyoroti, target inflasi yang dijaga pada kisaran 1,5–3,5 persen sebagai indikator stabilitas harga barang dan jasa. Sementara, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 dinilai cukup adaptif.

"Penguatan ekspor dan pengurangan ketergantungan impor menjadi kunci penting menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah perlu terus mendorong hilirisasi industri dan peningkatan daya saing produk dalam negeri," ujar Herman.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menargetkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 5,8 hingga 6,5 persen. Target tersebut disampaikan Presiden dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

“Saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen di tahun 2027,” kata Presiden. Kepala Negara menyebut target tersebut dapat dicapai melalui strategi ekonomi dan kebijakan fiskal yang prudent serta berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Presiden juga memaparkan target pendapatan negara pada APBN 2027. Pemerintah menargetkan pendapatan negara berada pada kisaran 11,82 hingga 12,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, belanja negara direncanakan berada pada kisaran 13,62 hingga 14,80 persen terhadap PDB. Presiden memastikan defisit APBN 2027 tetap dijaga pada rentang aman sebesar 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB.

“Defisit APBN tahun 2027 akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB,” ujar Presiden. Pemerintah juga menargetkan suku bunga surat berharga negara tenor 10 tahun berada pada kisaran 6,5 hingga 7,3 persen.

Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500. Inflasi nasional juga ditargetkan tetap terkendali pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....