Presiden Prabowo Soroti Rendahnya Rasio Pendapatan Negara

  • 20 Mei 2026 13:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Prabowo menilai rasio pendapatan dan belanja negara Indonesia terhadap PDB masih tertinggal di G20.
  • Rasio pendapatan Indonesia berada di kisaran 11–12 persen, jauh di bawah negara seperti Filipina dan Meksiko.
  • Sawit, batu bara, dan ferro alloy menyumbang devisa lebih dari USD65 miliar pada 2025.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menilai kapasitas fiskal Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Rasio belanja dan penerimaan negara terhadap PDB disebut terendah di antara negara-negara kelompok G20.

Hal itu disampaikannya dalam pidato kenegaraan tentang Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RPBN tahun 2027. "Hari ini Indonesia sebagai negara anggota G20, tapi rasio belanja negara kita terhadap produk domestik bruto kita paling rendah," kata Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Kepala Negara mengutip data International Monetary Fund (IMF) yang menunjukkan rasio pendapatan negara Meksiko mencapai 25 persen PDB. Sementara India berada di angka 20 persen, Filipina 21 persen, dan Kamboja 15 persen.

Sedangkan, rasio pendapatan Indonesia disebut masih berada di kisaran 11–12 persen. "Kita harus intropeksi kenapa kita tidak bisa kelola ekonomi sampai pendapatan negara kita bisa setara dengan filipina dan Meksiko," ujarnya.

Padahal, kata Presiden, Indonesia memiliki devisa besar yang salah satunya mengucur dari ekspor komoditas strategis. Mulai dari sawit, batu bara, dan paduan besi (ferro alloy).

Tiga komoditas itu disebut menjadi salah satu penopang utama penerimaan devisa nasional. Dari sawit, devisanya mencapai USD23 miliar atau setara sekitar Rp391 triliun sepanjang 2025.

Dari sektor batu bara, devisa ekspor bisa mencapai USD30 miliar (sekitar Rp510 triliun). Sementara itu, ferro alloy mencapai 16 miliar dolar AS atau sekitar Rp272 triliun.

“Tiga komunitas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS,” kata Prabowo dalam pidatonya. Dengan demikian, lanjutnya, total nilainya setara sekitar Rp1.100 triliun per tahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....