Kementan-TNI AL Pacu Swasembada Kedelai
- 15 Mei 2026 08:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementan, TNI AL, dan Pemkab Nganjuk panen kedelai bersama
- Indonesia masih impor sekitar 2,4 juta ton kedelai
- Kebutuhan kedelai nasional capai 2,7 juta ton
- Nganjuk jadi sentra kedelai unggulan Jawa Timur
- Produktivitas kedelai Nganjuk capai 2,2 ton per hektare
RRI.CO.ID, Nganjuk - Kementerian Pertanian, TNI Angkatan Laut, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk memperkuat kolaborasi percepatan swasembada kedelai nasional. Program dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai.
Kolaborasi ditandai panen kedelai bersama di Kabupaten Nganjuk, Kamis 15 Mei 2026. Kegiatan dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Mentan Amran mengatakan kedelai menjadi komoditas strategis nasional yang merupakan bahan baku utama tahu dan tempe. “Kalau kedelai selesai, disinilah kedaulatan pangan Republik tercapai,” kata Andi Amran Sulaiman.
Menurut Amran, kebutuhan kedelai nasional masih sangat bergantung pada impor. Indonesia masih mengimpor sekitar 2,6 juta ton kedelai per tahun.
“Ini kita impor 2,4 juta ton dari kebutuhan 2,6 sampai 2,7 juta ton. Ini yang paling jauh,” ucapnya.
| Baca juga: Bapanas Perkuat Pengawasan Kedelai di Gresik |
Data Kementerian Pertanian mencatat kebutuhan kedelai nasional 2026 mencapai 2,7 juta ton. Sekitar 95 persen kebutuhan masih dipenuhi dari impor.
Sementara produksi kedelai nasional lima tahun terakhir rata-rata mencapai 227 ribu ton per tahun. Luas tanam tercatat sekitar 136 ribu hektare dengan produktivitas 1,6 ton per hektare.
Hingga April 2026, produksi kedelai nasional mencapai 4.982 ton. Produksi berasal dari luas tanam 7.018 hektare.
Menurut Amran, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah potensial pengembangan kedelai nasional. Produksi kedelai Jawa Timur dua tahun terakhir mencapai rata-rata 54 ribu ton.
Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama kedelai di Jawa Timur. Produksi rata-rata mencapai 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare.
Produktivitas kedelai di Nganjuk mencapai 2,2 ton per hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal lahan kita luas dan petani kita mampu,” kata Amran.
Program pengembangan kedelai dilakukan di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor. Total pengembangan kawasan mencapai sekitar 2.300 hektare.
Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan 100 ton benih varietas Grobogan. Pemerintah juga memberikan bantuan 20 unit traktor roda dua dan bajak singkal.
Selain itu, pemerintah memperkuat jaminan pasar bagi petani kedelai. Dukungan dilakukan melalui kerja sama dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia.
Amran mengakui harga kedelai di tingkat petani masih menjadi tantangan utama. Harga saat ini berkisar Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram.
“Tidak boleh kedelai dibeli di bawah Rp10 ribu per kilo. Insyaallah kami segera keluarkan keputusan,” ucap Amran.
Pemerintah juga mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah kedelai sekitar Rp13.500 per kilogram. Kebijakan ditujukan menjaga keuntungan petani.
“Petani harus untung. Kalau harga bagus dan pasar terjamin, petani pasti semangat,” ucap Amran.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengatakan produktivitas kedelai Nganjuk melampaui rata-rata nasional. Menurutnya, percepatan swasembada penting dilakukan karena Indonesia masih bergantung pada impor.
“Indonesia makan tahu tempe setiap hari, tapi kedelainya masih impor,” kata Siti Hediati Soeharto.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto berharap program pengembangan kedelai di Nganjuk menjadi model nasional. Program diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain.
“Saya berharap ini menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia,” ucap Agus Subiyanto.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....