Sektor Kehutanan Jadi Kunci Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

  • 12 Mei 2026 15:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • kenaikan suhu bumi terus mengalami peningkatan signifikan sejak era industrialisasi
  • Sekitar 60 persen kontribusi penurunan emisi itu berasal dari sektor kehutanan dan lahan

RRI.CO.ID, Jakarta – Sektor kehutanan memiliki peran strategis menekan emisi gas rumah kaca dan mengatasi krisis iklim global. Hal tersebut dikatakan oleh Project Manager FOLU Net Sink 2 dan 3, Arga Paradita Sutiyono.

Dalam pemaparannya, Arga menjelaskan kenaikan suhu bumi terus mengalami peningkatan signifikan sejak era industrialisasi. Jika pada tahun 1800-an hingga awal 1900-an kenaikan suhu global masih relatif rendah.

Ia mengatakan saat ini suhu bumi telah meningkat. Peningkatan tersebut mendekati bahkan melampaui ambang batas global sebesar 2 derajat celsius.

Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh efek rumah kaca akibat meningkatnya akumulasi emisi gas di atmosfer, terutama karbon dioksida (CO2). Yang berasal dari berbagai aktivitas manusia.

“Semua aktivitas manusia menghasilkan emisi. Bahkan bernapas saja menghasilkan CO2, apalagi aktivitas ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam,” ujar Arga dalam acara Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU net Sink 2030, di Kuningan, Jawa Barat, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menjelaskan, emisi gas rumah kaca yang terus meningkat membuat panas matahari terperangkap di atmosfer. Hal ini memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Dampaknya pun meluas, mulai dari meningkatnya risiko bencana, gangguan kesehatan, hingga kerentanan sosial masyarakat. Arga juga menyoroti dampak krisis iklim terhadap perempuan, khususnya di wilayah pedesaan.

Menurutnya, ketika sumber mata air mulai mengering akibat perubahan iklim, perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak. Karena umumnya bertanggung jawab mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga.

“Di desa, yang mengambil air rata-rata perempuan. Ketika sumber air makin jauh, mereka yang paling merasakan dampaknya,” katanya.

Dalam konteks global, Arga menyebut negara-negara dunia telah sepakat untuk menekan kenaikan suhu bumi. Salah satu caranya yakni mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun, emisi tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya karena aktivitas manusia akan terus menghasilkan gas rumah kaca. Karena itu, menurutnya, sektor kehutanan menjadi salah satu solusi utama untuk menahan laju peningkatan emisi.

Ia menjelaskan, tanpa intervensi, emisi Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 2,8 miliar ton CO2 ekuivalen. Melalui berbagai aksi mitigasi, angka tersebut ditargetkan turun menjadi sekitar 1,2 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2030.

“Sekitar 60 persen kontribusi penurunan emisi itu berasal dari sektor kehutanan dan lahan. Sisanya berasal dari sektor lain seperti energi, transportasi, pertanian, dan pengelolaan sampah,” katanya.

Arga menambahkan, target tersebut menjadi bagian dari program Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Program ini menempatkan sektor kehutanan sebagai tulang punggung penurunan emisi nasional.

Meski demikian, ia menegaskan penanganan perubahan iklim tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kehutanan semata. Melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh sektor dan masyarakat secara bersama-sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....