TN Gunung Ciremai Perkuat Rehabilitasi Hutan Dukung FOLU Net Sink 2030

  • 12 Mei 2026 13:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus memperkuat upaya rehabilitasi kawasan hutan
  • Taman Nasional Gunung Ciremai juga mengembangkan praktik bioprospeksi

RRI.CO.ID, Jakarta – Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus memperkuat upaya rehabilitasi kawasan hutan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari dukungan terhadap program FOLU Net Sink 2030.

Penguatan ini dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti penanaman, patroli kawasan, hingga pencegahan kebakaran hutan. "Pengelola taman nasional berupaya menjaga ekosistem. Sekaligus meningkatkan fungsi hutan sebagai penyerap emisi karbon,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Toni Anwar, Selasa, 12 Mei 2026.

Pada 2025, kegiatan rehabilitasi ditargetkan mencakup penanaman di lahan seluas 100 hektare dengan sekitar 60 ribu bibit tanaman. Penanaman dilakukan di area-area terbuka sebagai bagian dari pemulihan ekosistem hutan.

Selain penanaman, pengelola juga menerapkan inovasi berbasis teknologi untuk memantau pertumbuhan tanaman. Setiap bibit yang ditanam didata dan dipantau melalui aplikasi khusus yang dikembangkan untuk mendukung proses monitoring secara berkala.

“Setiap tanaman difoto, datanya dicatat dan disimpan dalam database melalui aplikasi yang kami kembangkan. Dengan begitu perkembangan tanaman bisa dipantau dalam jangka waktu tertentu,” ujar Toni.

Toni menyebut, tidak hanya fokus pada rehabilitasi kawasan, Taman Nasional Gunung Ciremai juga mengembangkan praktik bioprospeksi. Yakni eksplorasi potensi sumber daya hayati seperti tumbuhan dan mikroba yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat.

“Program tersebut diarahkan untuk mendukung pertanian sehat bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Yang mana mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani,” ucapnya.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Yaitu bakteri pemacu pertumbuhan tanaman yang dihasilkan dari eksplorasi mikroba di kawasan taman nasional.

Produk tersebut telah memperoleh hak kekayaan intelektual (HAKI) berupa paten sederhana dari Kementerian Hukum dan HAM. Melalui langkah tersebut, TNGC diharapkan dapat memperkuat fungsi kawasan hutan mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.

Diketahui, emisi gas rumah kaca yang terus meningkat membuat panas matahari terperangkap di atmosfer. Hal ini memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Dampaknya pun meluas, mulai dari meningkatnya risiko bencana, gangguan kesehatan, hingga kerentanan sosial masyarakat. Project Manager FOLU Net Sink 2030, Arga Paradita Sutiyono menyoroti dampak krisis iklim terhadap perempuan, khususnya di wilayah pedesaan.

“Di desa, yang mengambil air rata-rata perempuan. Ketika sumber air makin jauh, mereka yang paling merasakan dampaknya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....