Selamatkan Satwa Korban Karhutla, Kementerian Kehutanan Perkuat Tim Penyelamat

  • 17 Sep 2026 23:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta — Kementerian Kehutanan memperkuat upaya penyelamatan satwa liar yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya tersebut bagian dari penanganan dampak kebakaran terhadap ekosistem dan habitat satwa.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama lembaga konservasi dan tim gabungan berhasil menyelamatkan tiga individu orangutan. Orang utan tersebut menjadi satwa terdampak karhutla di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

“Laporan dari masyarakat menjadi sangat penting karena mereka yang berada paling dekat dengan lokasi dan mengetahui keberadaan satwa. Dengan laporan yang cepat, tim dapat segera melakukan penanganan dan penyelamatan,” kata Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane, lewat keterangannya, Kamis, 17 September 2026.

Operasi pertama dilakukan di Dusun Sinar Timur, Desa Penjalaan, setelah seorang warga melaporkan keberadaan orangutan di kebun sawit. Dua hari kemudian, tim gabungan bergerak dan berhasil mengevakuasi induk orangutan betina.

Dua orangutan tersebut berusia sekitar 20 tahun bernama Mama Penja. Dan dievakuasi bersama anak jantannya yang berusia satu tahun, Penja.

Pemeriksaan medis menemukan luka bakar pada tangan dan kaki Mama Penja. Tim dokter kemudian memberikan pengobatan dan antibiotik serta mengambil sampel medis sebelum keduanya dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi.

Pada hari yang sama, tim melanjutkan operasi ke Desa Padu Banjar untuk mengevakuasi orangutan jantan dewasa. Yang menurut informasi masuk ke kebun dan mendekati permukiman setelah habitatnya terdampak kebakaran.

Orangutan berusia sekitar 15 tahun tersebut berhasil dievakuasi dan melalui pemindaian microchip diketahui bernama Kumbang. Satwa itu sebelumnya pernah diselamatkan pada Februari 2022.

Pemeriksaan awal menunjukkan Kumbang dalam kondisi relatif sehat. Namun, tim dokter menemukan luka lama bekas peluru senapan angin serta gejala batuk yang berkaitan dengan paparan karhutla.

“Dalam kondisi karhutla, satwa kehilangan habitat dan sumber pakannya sehingga berpotensi masuk ke kebun maupun mendekati permukiman. Karena itu, penyelamatan harus dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan satwa dan masyarakat,” ujar Murlan.

Saat ini ketiga orangutan tersebut menjalani observasi dan penanganan medis di Pusat Rehabilitasi YIARI. Pelepasliaran kembali ke habitatnya akan dilakukan setelah kondisi cuaca membaik dan kawasan hutan dipastikan aman dari ancaman kebakaran.

BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mencatat sebanyak 23 orangutan telah dievakuasi dalam penanganan dampak karhutla. Selain itu, tim juga menyelamatkan sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu.

Murlan mengimbau masyarakat tidak melakukan penangkapan atau evakuasi satwa liar secara mandiri. Masyarakat yang menemukan satwa terdampak karhutla diminta segera melapor kepada petugas memberikan informasi lokasi dan kondisi satwa.

“Masyarakat jangan melakukan evakuasi sendiri. Laporkan kepada petugas agar satwa dapat ditangani dengan prosedur yang tepat dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” kata Murlan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....