Siap-siap Indonesia Akan Punya Alternatif LPG, Cek Perkiraan Harganya

  • 07 Mei 2026 10:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut penggunaan CNG diproyeksikan 30 persen lebih murah dibanding LPG berdasarkan hasil kajian pemerintah.
  • Pemerintah menilai CNG berpotensi dikembangkan karena bahan baku gas melimpah di Indonesia dan sudah digunakan di hotel, restoran, serta dapur MBG.
  • Kementerian ESDM tengah mematangkan distribusi CNG untuk masyarakat guna menekan impor LPG yang terus meningkat akibat turunnya produksi nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terus mencari alternatif 'pengganti' Liquefied Petroleum Gas (LPG). Diantara yang sedang dikejar adalah penggunaan Compressed Natural Gas (CNG).

Gas kompres yang menjadi alternatif itu dinilai bisa lebih murah dibandingkan pemakaian LPG. Tak tanggung-tanggung, menurut hasil kajian, ia mengatakan penggunaan CNG bisa lebih murah 30 persen.

"CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah," katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Kamis, 7 Mei 2026.

Ia juga menerangkan, bahwa untuk bahan baku gas CNG berlimpah di Indonesia didukung dengan adanya industri di dalam negeri. "Jadi kita tidak melakukan impor, cost trasnportasinya saja sudah bisa mengcover," ujarnya, menegaskan

Selain itu, gas CNG, katanya, berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya. Sehingga, ini bisa bisa lebih efisien.

"Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG dapur-dapur MBG sudah pakai itu," ucapnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan sedang mematangkan pola distribusi di lapangan. Ia menyebut percepatan konversi utamanya untuk menekan porsi impor gas yang terus membengkak seiring dengan pertumbuhan penduduk–ekonomi.

"Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat," ujarnya. Pemerintah mencatat produksi LPG nasional terus mengalami tren penurunan sejak tahun 2010.

Kondisi tersebut memaksa Indonesia untuk mendatangkan pasokan dari luar negeri dalam jumlah besar. Guna mencukupi kebutuhan domestik yang mayoritas dialokasikan untuk sektor rumah tangga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....