CNG digadang Jadi Pengganti LPG 3 Kg, Lebih Murah namun Terkendala Infrastruktur

  • 05 Mei 2026 15:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kendala utama meliputi teknologi tabung bertekanan, standar keamanan, serta regulasi yang masih kompleks.
  • Infrastruktur distribusi belum merata, meski CNG berpotensi efisien bagi rumah tangga dan industri.
  • Pemerintah siapkan CNG sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg untuk tekan biaya energi rumah tangga.
  • CNG dinilai lebih murah hingga 20–30 persen, namun bergantung pada kesiapan infrastruktur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mulai menyiapkan CNG (Compressed Natural Gas) sebagai pengganti LPG 3 kilogram untuk rumah tangga. Langkah ini dinilai dapat menekan biaya energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

CNG memiliki potensi besar karena ketersediaan gas domestik relatif melimpah. Selain itu, harga penggunaannya disebut bisa lebih murah dibandingkan LPG jika infrastrukturnya siap.

Pengamat energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai efisiensi CNG cukup menjanjikan bagi masyarakat. Ia menyebut penghematan penggunaan energi bisa mencapai puluhan persen dibandingkan LPG.

"Kalau misalkan kita bisa menggunakan CNG itu sekitar 20 sampai 30 persen lebih murah. Kalau infrastrukturnya itu kita siapkan dengan baik maka keekonomiannya akan lebih kompetitif," ujar Yayan Satyakti, dalam wawancara bersama PRO 3 RRI, Selasa, 5 Mei 2026

Selain harga, tantangan utama terletak pada kesiapan teknologi dan standar keamanan tabung bertekanan tinggi. Indonesia dinilai belum sepenuhnya mampu memproduksi teknologi penyimpanan gas dengan standar optimal.

Regulasi juga menjadi hambatan karena standar nasional dan izin distribusi dinilai masih terlalu kompleks. Perbaikan iklim investasi dianggap penting agar pengembangan CNG bisa berjalan lebih cepat.

"Standarisasi ini kita masih belum punya, sehingga teknologinya juga harus diperbaiki. Kemudian iklim investasi dan regulasinya juga perlu disesuaikan agar pengembangan bisa berjalan optimal," ujar Yayan.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, melihat CNG sebagai alternatif menarik bagi industri. Menurutnya, penggunaan energi lebih efisien dapat membantu menekan biaya operasional usaha.

"Kalau nggak salah saya dulu pernah ada analisa sekitar 10 sampai 12 persen efisiensinya. Itu bisa menurunkan cost produksi dibandingkan penggunaan LPG," kata Maulana Yusran.

Meski demikian, ia menekankan keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama implementasi CNG. Distribusi yang belum merata membuat pemanfaatan CNG belum optimal di berbagai sektor.

Pemerintah terus mendorong pengembangan CNG sebagai solusi jangka panjang energi domestik. Dengan dukungan regulasi dan investasi, CNG berpotensi menjadi alternatif pengganti LPG bersubsidi. (Agnes Claudia Ohoira)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....