Komisi X DPR Dorong Kemendiktisaintek Revitalisasi Prodi yang Kurang Relevan
- 28 Apr 2026 09:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mendorong, Kemendiktisaintek merevitalisasi program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan
- Pernyataan tegas Waketum Golkar ini, sekaligus merespons rencana Kemendiktiksaintek yang ingin menutup sejumlah prodi di perguruan tinggi
- Orientasi efisiensi yang berlebihan justru berisiko mempersempit ekosistem keilmuan
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mendorong, Kemendiktisaintek merevitalisasi program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan. Dalam merevitalisasi prodi tersebut, Kemendiktisaintek perlu menguatkan kurikulum, pendekatan interdisipliner, serta keterkaitan dengan potensi daerah dan kebudayaan lokal.
Pernyataan tegas Waketum Golkar ini, sekaligus merespons rencana Kemendiktiksaintek yang ingin menutup sejumlah prodi di perguruan tinggi. Kemendiktisaintek menilai, sejumlah prodi di perguruan tinggi kurang relevan dengan pertumbuhan industri di Indonesia.
"Orientasi efisiensi yang berlebihan justru berisiko mempersempit ekosistem keilmuan. Sekalius, melemahkan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat peradaban," kata Hetifah dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Karena itu, ia mendorong, evaluasi prodi harus dilakukan secara berkala dan transparan. Yakni, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, industri, dan asosiasi profesi.
"Jika penyesuaian harus dilakukan. Maka wajib disertai masa transisi yang adil, serta perlindungan penuh bagi mahasiswa dan dosen," ucap Hetifah.
Kemudian, Hetifah menuturkan, perguruan tinggi tidak boleh dipandang semata sebagai pemasok tenaga kerja. Rencana penghapusan prodi harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berbasis kajian akademik yang kuat.
"Setiap kebijakan terkait prodi harus berpijak pada kajian komprehensif, bukan sekadar merespons tren jangka pendek. Fungsi perguruan tinggi jauh lebih luas, termasuk pengembangan ilmu dasar, kebudayaan, dan daya kritis bangsa," ujar Hetifah.
Sebelumnya diberitakan, Kemendiktisaintek mengusulkan evaluasi hingga penutupan prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Sekjen Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco mengatakan, langkah tersebut bertujuan mengatasi ketidakcocokan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.
“Mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi. Perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, saat ini banyak perguruan tinggi membuka prodi berdasarkan minat pasar jangka pendek. Sehingga, dinilainya terjadi kelebihan suplai lulusan di bidang tertentu.
“Akibatnya kelebihan suplai di situ, misalnya tahun 2028 itu sebenarnya kita kelebihan suplai dokter. Kalau misalnya ini dibiarkan, apalagi terjadi maldistribusi, tidak keseimbangan distribusi di masing-masing daerah,” ucap Badri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....