Peran Keluarga Jadi Kunci Cegah Radikalisme Anak di Era Digital
- 25 Apr 2026 11:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Zora Arfina Sukabdi menilai keluarga berperan penting mencegah radikalisme anak, dengan pendekatan pembinaan dibanding penindakan hukum.
- Perubahan perilaku dan aktivitas digital anak menjadi indikator awal paparan radikalisme yang perlu diawasi orang tua.
- Mayndra Eka W menekankan tantangan ruang digital yang sulit dikendalikan, sehingga diperlukan penguatan literasi dan nilai dasar seperti Pancasila.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ancaman radikalisme terhadap anak di era digital dinilai semakin nyata dan perlu perhatian serius. Perkembangan teknologi digital mempercepat penyebaran ideologi ekstrem sehingga anak-anak menjadi kelompok rentan terpapar konten berbahaya.
Kaprodi Kajian Terorisme Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia, Zora Arfina Sukabdi, mengungkapkan indikasi radikalisasi anak kini terdeteksi. Pendekatan pembinaan keluarga dinilai lebih tepat dibandingkan penindakan hukum untuk menjaga masa depan anak tetap terarah dan positif.
"Nyata sekali sekarang ini ada beberapa anak yang menjadi perhatian, tapi memang tidak ditangkap seluruhnya. Hanya diperhatikan saja dan diawasin, kemudian ada ratusan anak terindikasi, cuma kita tidak mau merusak masa depan mereka," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat 24 April 2026.
Ia menjelaskan perubahan perilaku menjadi tanda awal yang dapat diamati oleh orang tua dalam kehidupan anak sehari-hari. Perubahan ini mencakup sikap sosial hingga cara berinteraksi yang menunjukkan adanya pergeseran nilai dan pemikiran.
Aktivitas digital anak juga menjadi indikator penting dalam mendeteksi paparan radikalisme sejak dini oleh keluarga di rumah. Konten yang diikuti tanpa pemahaman asal-usul dapat mengarahkan anak pada jaringan ideologi yang terstruktur dan masif.
"Kemudian aktivitas online melihat dan memfollow konten yang memang dia tidak tahu asal-muasalnya dari mana. Tetapi dia like dan ternyata itu terafiliasi dengan jaringan besar, yang memang itu masif terstruktur dibikin oleh rekruternya" ucapnya, menjelaskan.
Menurutnya, masa remaja merupakan fase krisis identitas yang membuat anak lebih mudah terpengaruh lingkungan sosial dan digital. Fase ini merupakan bagian alami perkembangan sehingga perlu pendampingan agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu.
Ia menekankan pentingnya keluarga dalam membangun kepercayaan serta komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Hubungan yang kuat akan membuat anak menjadikan rumah sebagai tempat aman untuk berbagi dan berdiskusi.
Kepala Satgaswil Banten Densus 88 AT Polri, Kombespol Mayndra Eka W mengatakan, ruang digital bersifat lintas negara dan anonim sehingga sulit dikendalikan. Ia menuturkan, tantangan lain adalah rendahnya budaya membaca dan berpikir kritis.
Kondisi ini membuat masyarakat, termasuk anak-anak, mudah terpengaruh hoaks dan ideologi kekerasan. Karena, kemampuan untuk menyaring informasi berpengaruh terhadap perilaku.
"Namun, kita juga memiliki kekuatan fundamental, yakni Pancasila dan pranata sosial masyarakat yang mengakar kuat. Terutama di Banten, sebagai benteng nilai dalam menghadapi pengaruh negatif," ucapnya. (Agnes Claudia Ohoira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....