Kerentanan Psikologis Anak Dinilai Jadi Celah Masuk Ideologi Radikalisme

  • 30 Jan 2026 19:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Paparan ideologi radikal dan ekstrem pada anak mencerminkan adanya kerentanan psikologis dalam fase perkembangan. Anak berada pada masa transisi yang membuat mereka mudah menyerap pengaruh dari lingkungan sekitar.

Psikolog sekaligus Kaprodi Kajian Terorisme UI, Zora Arfina Sukabdi, menjelaskan anak belum memiliki struktur psikologis yang matang. Kondisi tersebut membuat anak membutuhkan pendampingan intensif dari orang dewasa terdekat.

“Anak ini kan masih masa transisi ya, dia punya beberapa tahap perkembangan yang memang sedang di dibangun. Jadi banyak mudah diintervensi, masih harus didampingi,” kata Zora dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jumat 30 Januari 2026.

Menurut Zora, krisis perkembangan menjadi bagian alami dalam proses pembentukan identitas anak. Pada fase ini, anak cenderung mudah dipengaruhi pihak luar yang ingin membentuk pola pikir tertentu.

Perubahan pola keluarga juga dinilai meningkatkan kerentanan anak terhadap intervensi ideologis. Orang tua yang sama-sama bekerja membuat pengawasan dan kelekatan emosional menjadi berkurang.

“Orang tua zaman sekarang biasanya bekerja double income, sehingga tidak seperti dulu. Sehingga ketika keduanya bekerja siapa yang menjaga anak, dan ini rentan sekali banyak bisa dimasuki intervensi-intervensi luar,” ujarnya.

Zora menilai gawai dan media sosial menjadi jalur utama paparan ideologi radikal pada anak. Algoritma digital membuat anak terus menerima konten serupa tanpa memiliki sudut pandang pembanding.

“Media sosial ini kan ada algoritma dan kita ini sebagai konsumen, kita hanya penerima, apalagi anak. Sementara kemampuan berpikir kritisnya belum terbentuk,” ucapnya.

Menurutnya setiap anak memiliki tingkat kerentanan subjektif yang berbeda-beda. Pengalaman seperti perundungan atau ketimpangan sosial dapat memperkuat kerentanan psikologis tersebut.

Dalam praktiknya, pendekatan radikalisasi kerap dilakukan melalui proses grooming secara perlahan. Pelaku memanfaatkan ruang seperti gim daring dan percakapan personal untuk membangun kedekatan emosional.

“Bisa jadi mungkin melalui game online, melalui chat disitu. Kemudian dari situ kadang-kadang anak menjadi suka curhat kecil-kecil,” kata Zora.

“Melalui itu dibombardir dengan pesan-pesan jadi tidak ada ruang untuk anak berpikir logis. Karena otaknya itu sudah penuh dengan masukkan dari salah satu sumber saja,” ujarnya menambahkan.

Dia menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan kasih sayang dan ruang dialog terbuka. Pendampingan emosional dinilai mampu memperkuat daya tahan anak terhadap pengaruh ideologi ekstrem.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....