Sinergi Sekolah dan Densus 88: Perkuat Guru Lindungi Remaja Radikalisme
- 13 Mar 2026 06:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah pesatnya arus informasi digital yang menyasar kerentanan emosional remaja, institusi pendidikan kini memegang peranan vital melampaui sekadar transfer ilmu akademis. Menyadari hal tersebut, Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang bersama Redea Institute menggelar rangkaian kolaborasi strategis.
Acara itu dilakukan bersama Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri untuk membentengi ekosistem sekolah dari ancaman radikalisme dan kekerasan. Rangkaian program ini dimulai dengan sesi edukasi bagi orang tua dan siswa pada pertengahan Februari 2026.
Dalam acara itu dihadirkan juga para psikolog sekolah untuk membahas navigasi emosi remaja di dunia digital. Bersama dengan tim Densus 88, pemaparan memberikan gambaran lengkap mengenai pentingnya peran orang tua sebagai benteng pelindung.
Tak lengkap jika pembekalan hanya diberikan kepada orang tua dan siswa. Pilar sekolah lainnya pun harus mendapatkan hal yang sama.
Puncaknya, sebuah sesi khusus bagi para guru dan staf dilaksanakan pada Rabu, 11 Maret 2026, di Black Box Theater, Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang. Sejak didirikan pada tahun 1996, HighScope Indonesia Institute, yang berevolusi menjadi Redea Institute, sepenuhnya menjunjung tinggi kolaborasi antara rumah dan sekolah (home-school collaboration).
Nilai-nilai kehidupan seperti saling menghormati, tanggung jawab, dan menghargai perbedaan telah ditanamkan sejak dini kepada seluruh siswa-siswi di Sekolah. HighScope Indonesia—yang akan berganti nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech pada Juli 2026 mendatang.
Guru sebagai "Imunitas" Mental Siswa Sesi guru yang bertajuk "Peran Guru sebagai Lini Terdepan: Navigasi Emosi Remaja dan Mitigasi Risiko Radikalisme di Sekolah". Ini menekankan bahwa guru adalah figur dewasa utama yang paling mampu melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
Dalam paparannya, tim Densus 88—yang menghadirkan Kompol Ridjoko Suseno, dan Bripda Chaterina Maharani—mengungkapkan kelompok radikal kini aktif memanfaatkan media sosial untuk mendekati remaja melalui manipulasi psikologis. Mereka tidak lagi muncul dengan wajah yang menakutkan, melainkan menyamar sebagai
Pertama, teman Curhat.
Mereka menawarkan solusi atas rasa kesepian atau ketidakadilan. Kedua heroisme palsu, menjanjikan tujuan hidup yang besar atau petualangan.
Ketiga esklusivitas, membuat remaja merasa menjadi bagian dari kelompok "terpilih". Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina Amir mengatakan penting bagi guru untuk tidak sekedar mengejarh subject outcomes.
"Namun juga memfasilitasi siswa mengembangkan skills dan values melalui learner outcomes. Kemampuan inilah yang memungkinkan siswa bersikap kritis dan bijak di dunia digital,” katanya.
“Guru adalah aktor utama yang mendukung siswa mencapai tujuan jangka panjang mereka. Sebagai garda terdepan, guru harus terus belajar memperbarui strategi pembelajaran agar mampu mendeteksi risiko dan melindungi siswa dari ancaman kekerasan maupun radikalisme.”
Strategi Mitigasi di Lingkungan Sekolah
Densus 88 mengingatkan kembali bahwa pengelolaan emosi (anger management) yang tidak optimal pada siswa dapat berkembang menjadi tindakan agresif atau keinginan untuk balas dendam (revenge). Oleh karena itu, guru dibekali dengan strategi konkret untuk membangun "imunitas" mental siswa melalui beberapa langkah.
Di antaranya melalui literasi Digital & Dekonstruksi Narasi: Mengajak siswa membedah konten provokatif. Dan mengenali narasi "kita lawan mereka" (us vs them).
Lalu melalui Ruang Aman (Safe Space). Di mana harus menciptakan diskusi terbuka di mana siswa boleh bertanya tentang isu sensitif tanpa merasa dihakimi, guna mencegah mereka mencari jawaban di algoritma internet yang ekstrem.
Selanjutnya Simulasi Keamanan. Untuk Memberikan edukasi teknis seperti aktivasi Two-Factor Authentication (2FA) dan mekanisme pelaporan akun yang melakukan grooming radikal.
Kemudian ada Tanggung Jawab Bersama. Ini harus dilakukan Pemerintah, Sekolah, dan Orang Tua.
Poin krusial dalam pertemuan ini adalah penegasan mengenai pembagian peran. Pemerintah melalui regulasi dan aparat keamanan memberikan perlindungan makro, namun sekolah dan guru bertanggung jawab penuh dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan berpikir kritis ke dalam kurikulum. Seperti pada mata pelajaran Agama, PPKn, maupun sesi Advisory.
Selain itu, sekolah didorong untuk membentuk tim pencegahan kekerasan serta menyediakan saluran pelaporan anonim bagi siswa yang melihat rekannya mulai terpapar konten berbahaya.
Melalui sinergi ini, guru berperan lebih dari sekadar pengajar; mereka menjadi mitra strategis bagi orang tua. Dalam membangun lingkungan pendukung yang konsisten, memastikan remaja memiliki ruang aman untuk bertumbuh baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....