Ikan Invasif Dominiasi Perairan, BRIN Ingatkan Ancaman pada Ekosistem
- 23 Apr 2026 15:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN mencatat 50 jenis ikan asing di Indonesia, dengan 18 di antaranya tergolong invasif dan berpotensi merusak ekosistem perairan
- Ikan invasif seperti sapu-sapu, lohan, dan aligator gar mengancam ikan lokal karena memangsa secara masif serta mengganggu keseimbangan ekosistem.
- Penyebaran ikan invasif diduga berasal dari pelepasan ikan hias oleh masyarakat, sehingga diperlukan penguatan regulasi, edukasi, dan pemulihan ekosistem untuk pengendalian.
RRI.CO.ID, Jakarta - Keberadaan ikan invasif di perairan Indonesia semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Ikan-ikan ini diduga berasal dari hobi ikan hias yang dilepas ke alam bebas.
Peneliti BRIN, Gema Wahyu Dewantoro mengungkapkan terdapat puluhan jenis ikan asing di Indonesia. Sebagian di antaranya masuk kategori invasif dan berpotensi merusak ekosistem.
"Kami kan pernah menulis itu ada 50 jenis ikan introduce yang dari luar ya. Kemudian 18-nya termasuk invasif," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan, ikan invasif tersebut terdiri dari berbagai kelompok yang berbeda. Beberapa di antaranya termasuk ikan sapu-sapu, ikan Lohan, hingga predator besar seperti aligator gar.
Menurutnya, ikan-ikan tersebut dapat memangsa ikan lokal secara masif di habitat alami. Hal ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di Indonesia.
Masuknya ikan asing ini diduga berasal dari aktivitas perdagangan ikan hias. Banyak masyarakat yang melepas ikan ke sungai saat sudah tidak ingin memeliharanya.
“Itu awalnya memang masuknya diduga memang sebagai ikan hias. Memang hiasan, kemungkinan karena sudah bosan mau tidak mau dilepaskan aja," ucapnya.
Ia menilai, regulasi sebenarnya sudah ada, namun implementasi masih perlu diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci untuk mencegah penyebaran ikan invasif.
Sementara itu, pengendalian ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan secara parsial, hal tersebut perlu penanganan menyeluruh melalui pemantauan populasi. Hal itu disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Triyanto.
Ia menyebut sungai tercemar menjadi habitat ikan sapu-sapu berkembang cepat, sedangkan ikan lokal makin terpinggirkan dan menurun. "Selama kualitas ekosistem belum diperbaiki, dominasi spesies invasif ini akan sulit dikendalikan," katanya, menjelaskan.
Melalui pemulihan ini, kata dia, diharapkan ikan lokal kembali berkembang, invasif baru ditekan. Serta pengendalian spesies invasif dapat berjalan berkelanjutan. (Agnes Claudia Ohoira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....