Pakar: Pengendalian Ikan Sapu-Sapu Jakarta Perlu Strategi Terpadu

  • 16 Apr 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penanganan ikan sapu-sapu dilakukan melalui penangkapan ikan kecil di bawah 30 cm, pemusnahan hasil tangkapan, serta pelaksanaan secara sistematis di sepanjang aliran sungai.
  • Pemanfaatan eDNA membantu deteksi dini, sementara predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat menekan populasi, yang selama ini meningkat karena minimnya predator di sungai Jakarta.
  • Ikan sapu-sapu merusak ekosistem karena menggeser ikan lokal dan berkembang biak cepat, serta tidak disarankan dikonsumsi karena berpotensi mengandung logam berat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar perikanan IPB, Charles PH Simanjuntak menyoroti lonjakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta. Pengendalian dinilai perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Ia menyebut penangkapan selektif menjadi langkah penting. Target utama adalah ikan berukuran kecil di bawah 30 sentimeter.

“Penangkapan harus dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan yang tertangkap perlu dimusnahkan untuk menekan populasinya,” ujarnya dalam dialog Pro3 RRI, Kamis, 16 April 2026.

Ia juga menyarankan pemanfaatan teknologi pemantauan modern seperti environmental DNA. Teknologi ini mampu mendeteksi keberadaan ikan sejak tahap awal.

Selain itu, pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan biologis. Predator alami dinilai efektif menekan populasi ikan sapu-sapu.

“Ikan lokal seperti baung dan betutu dapat menjadi predator alami. Peran ini penting terutama pada fase juvenil ikan invasif,” katanya, menjelaskan.

Ledakan populasi terjadi karena minimnya predator alami di sungai Jakarta. Kondisi ini berbeda dengan habitat asli di Sungai Amazon.

Di habitat asalnya, ikan sapu-sapu memiliki banyak predator alami. Hal tersebut menjaga keseimbangan populasi secara alami.

Charles juga mengingatkan agar ikan sapu-sapu tidak dikonsumsi masyarakat. Risiko kesehatan dinilai cukup tinggi terutama dari perairan tercemar.

“Ikan ini tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kandungan logam berat berpotensi membahayakan kesehatan,” ucapnya, tegas.

Peneliti BRIN Gema Wahyu Dewantoro menilai ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif. Keberadaannya mengancam populasi ikan asli di perairan lokal.

“Ikan ini dapat menggeser spesies lokal dan berkembang sangat cepat. Konsumsi jangka panjang berisiko karena kandungan logam berat,” kata Gema.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....