Annisa Rengganis Soroti Diplomasi Pena Wujud Warisan Gagasan Lintas Zaman

  • 22 Apr 2026 17:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kebudayaan menekankan sejarah sebagai dasar diplomasi budaya, dengan menyoroti R.A. Kartini dan konsep 'diplomasi pena' sebagai warisan gagasan lintas zaman.
  • Annisa Rengganis menyebut karya Kartini dan Chairil Anwar menunjukkan gagasan dapat melampaui waktu, sekaligus mendorong perempuan untuk menulis sebagai kontribusi budaya dan warisan masa depan.
  • Mulyani memaknai kemerdekaan perempuan sebagai kemampuan memberi makna bagi sesama, berangkat dari pengalaman hidupnya sebagai perempuan desa dan pegiat seni.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai pijakan dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. Demikian disampaikan oleh Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya, Annisa Rengganis.

Ia menyoroti peran penting R.A. Kartini melalui surat-suratnya yang dinilai mampu membuka wawasan tentang kondisi perempuan zaman dahulu. Terutama terkait akses pendidikan dan kebebasan berpendapat.

"Seandainya Kartini tidak menulis surat, kita tidak akan mengetahui bagaimana sulitnya perempuan saat itu. Zaman dimana perempuan sulit mengakses pendidikan dan menyuarakan pendapat," katanya dalam gelar wicara 'Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi', Museum R.A Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Selasa, 21 April 2026.

Ia menekankan, karya tulis Kartini menjadi bukti bahwa gagasan dapat melampaui zamannya dan menjadi warisan intelektual. Hal serupa juga terjadi pada tokoh seperti Chairil Anwar yang karyanya tetap dikenang lintas generasi.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan pentingnya 'diplomasi pena' atau kekuatan tulisan sebagai sarana membangun pemahaman lintas waktu dan ruang. Ia mengajak para perempuan dan pegiat literasi untuk mulai menuliskan gagasan dan pemikiran sebagai bagian dari kontribusi budaya.

"Memerdekakan diri dengan menuliskan gagasan dan pemikiran. Mungkin tidak bisa dibaca hari ini tapi nanti di masa depan bisa menjadi warisan bagi generasi yang akan datang," ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan berkomitmen menciptakan ruang diskusi yang inklusif. Termasuk pelibatan aktif perempuan dalam berbagai program kebudayaan.

Ia menyebutkan bahwa perspektif keberagaman gender telah menjadi bagian dari kebijakan strategis Kemenbud. Bahkan menjadi salah satu indikator dalam indeks pemajuan kebudayaan nasional.

"Beberapa program juga tampak salah satunya menghadirkan seniman-seniman, sastrawan, perempuan. Khususnya dalam aktivasi di program-program kementerian kebudayaan," ujarnya, menjelaskan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem sastra sebagai bagian dari diplomasi budaya. Sehingga karya tulis dan pemikiran seniman dapat menjadi jembatan hubungan internasional.

Di sisi lain, pegiat seni Bundengan dan Tari Topeng Lengger, Mulyani membeberkan arti kemerdekaan perempuan pada dunia seni. Menurutnya, makna kemerdekaan bagi perempuan tidak selalu dimaknai sebagai kebebasan semata, tetapi tentang bagaimana memberi arti bagi sesama.

Ia mengungkapkan, latar belakangnya sebagai perempuan desa membentuk cara pandangnya terhadap kemerdekaan. Ia mengenang masa kecilnya yang harus menempuh perjalanan sejauh sembilan kilometer dengan berjalan kaki untuk pergi ke sekolah.

"Sebagai orang desa, saya dulu harus berjalan kaki sejauh sembilan kilometer untuk ke sekolah. Jadi merdeka saat ini yang saya rasakan adalah bagaimana kita pada usia saya itu bisa menyerahkan diri," kata Mulyani.

Menurutnya, kemerdekaan yang dirasakan saat ini bukan hanya soal kebebasan menentukan pilihan hidup. Tetapi bagaimana seseorang mampu menyerahkan diri untuk hidup yang lebih bermakna bagi orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....