Bundengan Mendunia, Begini Cerita Mulyani Menjaga Warisan Budaya Nusantara

  • 22 Apr 2026 14:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Semangat R.A. Kartini menginspirasi Mulyani melestarikan alat musik Bundengan yang sempat nyaris tidak dikenal generasi muda sejak 2015.
  • Mulyani berhasil membawa Bundengan ke kancah internasional (Sydney, Melbourne, Chiang Mai) serta masuk nominasi ajang film di Berlin melalui keterlibatannya dalam film 'Empu'.
  • Selain berkesenian, Mulyani mengabdi lebih dari 30 tahun mendampingi anak-anak 'istimewa', sekaligus memperkuat peran perempuan dalam seni seperti juga disuarakan kurator Clara Bianpone

RRI.CO.ID, Jakarta - Semangat perjuangan R.A. Kartini terus hidup dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh Mulyani, seorang pegiat seni Bundengan asal Wonosobo.

Ia menuturkan, ketertarikannya terhadap Bundengan berawal dari keprihatinannya melihat alat musik tradisional tersebut. Alat musik tradisional tersebut nyaris tidak dikenal generasi muda pada 2015.

Ia kemudian terdorong untuk belajar dan menggali potensi diri demi menghidupkan kembali kesenian tersebut. "Sebagai wanita yang ingin menyerap energi positif dan semangat dari Ibu Kartini, saya mewujudkannya dengan belajar Bundengan," katanya dalam gelar wicara 'Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi', Museum R.A Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Selasa, 21 April 2026.

Seiring berjalannya waktu, upaya tersebut membuahkan hasil, ia berkesempatan memperkenalkan Bundengan ke kancah internasional. Di antaranya ke Sydney dan Melbourne pada 2015–2018, serta ke Chiang Mai, Thailand, pada 2023.

Tidak hanya itu, ia juga terlibat dalam film berjudul 'Empu', dengan menggunakan Bundengan dan topeng sebagai properti. Keterlibatannya dalam film tersebut membawanya masuk nominasi dalam ajang perfilman di Berlin.

Dengan penuh keberanian, ia bahkan membawa Bundengan ke luar negeri dan memainkannya di ruang publik. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya Indonesia.

Baginya, hal tersebut merupakan wujud nyata kecintaan terhadap tradisi. "Saya wanita Indonesia yang harus bangga dengan tradisi kita, saya tidak peduli tapi saya tetap bermain," ucapnya.

Selain sebagai seniman, ia juga dikenal sebagai pendidik yang telah lebih dari 30 tahun mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia memilih menyebut mereka sebagai 'anak istimewa' dan terus mendorong mereka untuk tampil serta berekspresi melalui seni.

Menurutnya, mendampingi dan mengantarkan anak-anak tersebut untuk tampil di berbagai panggung. Termasuk di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menjadi kebahagiaan tersendiri.

Ia menegaskan, pengabdiannya melalui seni dan pendidikan merupakan bentuk peran sebagai 'Kartini Masa Kini'. "Ini adalah cara saya untuk terus bermakna bagi siapa pun," ujarnya.

Sementara itu, meneruskan perjuangan Kartini pada dunia seni juga di alami oleh kurator Indonesia Women Artist #4, Clara Bianpone. Menurutnya, narasi seni selama ini cenderung menyampingkan kontribusi perupa seni perempuan.

"Penulisan sejarah seni rupa Indonesia agak menyampingkan cerita perempuan. Bahkan pernah ada yang bilang tidak ada artis perempuan," katanya saat ditemui wartawan usai pameran Indonesian Woman Artist #4: On The Map, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 9 April 2026.

Namun, menurutnya, anggapan tersebut terpatahkan ketika tim kurator berhasil menghimpun puluhan karya perempuan yang layak dipamerkan. Pada penyelenggaraan pertama, IWA menghadirkan 34 seniman perempuan lintas generasi melalui pameran bertajuk 'The Curtain Opens.'

Setelah sempat vakum selama lebih dari satu dekade, IWA kembali digelar pada 2019. Kembalinya pameran tersebut kemudian menampilkan perkembangan signifikan dalam karya perupa perempuan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....