Diplomasi Pena Kartini: Jalan Perjuangan Mendobrak Tradisi Feodal Perempuan
- 22 Apr 2026 09:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- R.A. Kartini berjuang melalui tulisan dan korespondensi, bukan kekuatan fisik, yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
- Surat-surat Kartini menjadi sarana diplomasi budaya yang mencakup pertukaran gagasan, pendidikan perempuan, hingga promosi kuliner dan seni seperti ukir Jepara dan batik.
- Pemikiran Kartini berhasil mengubah stereotip dunia terhadap Indonesia serta mendorong peningkatan harkat dan martabat perempuan melalui gagasan yang progresif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perjuangan R.A. Kartini tidak dilakukan melalui senjata atau kekuatan fisik, melainkan melalui kekuatan gagasan yang dituangkan dalam kata-kata. Hal tersebut disampaikan oleh Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya, Annisa Rengganis.
Ia menjelaskan, Kartini aktif melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di berbagai belahan dunia. Surat-surat tersebut kemudian dihimpun dan diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam memahami pemikiran Kartini.
"Untuk menunjukkan bagaimana perjuangan Kartini bukan dengan senjata atau kekuatan fisik, melainkan melalui kata-kata. Kartini melakukan korespondensi surat-menyurat dengan beberapa sahabatnya di berbagai belahan dunia," katanya dalam gelar wicara 'Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi', Museum R.A Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Selasa, 21 April 2026.
Ia menuturkan, pada masa itu terdapat stereotip yang menganggap bangsa Indonesia terbelakang. Melalui pemikiran kritis yang tertuang dalam surat-suratnya, Kartini justru menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan intelektual yang kuat.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, diplomasi budaya Kartini tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan. "Kami membaca ulang 179 surat Kartini, terdapat empat bentuk diplomasi yang dilakukan," ujarnya.
Pertama, diplomasi intelektual melalui pertukaran gagasan. Kartini kerap berdiskusi mengenai isu kolonialisme, feodalisme, serta kesetaraan pendidikan bagi kaum pribumi, khususnya perempuan.
Kartini tidak mengagungkan budaya Eropa, melainkan melakukan perbandingan untuk mendorong kesetaraan. Kedua, diplomasi pendidikan yang menekankan pentingnya akses belajar bagi perempuan.
Ketiga, diplomasi kuliner, di mana Kartini memperkenalkan masakan tradisional Jawa dalam surat-suratnya. Seperti sup pangsit Jepara dan ayam besenge kepada sahabatnya di Eropa.
Keempat, diplomasi seni dan budaya. Kartini aktif mempromosikan seni ukir Jepara dan batik kepada kolega internasionalnya. "Bahkan, ia disebut sebagai duta promosi pertama Jepara karena mengenalkan secara aktif seni ukir Jepara" ucapnya, menegaskan.
Menurutnya, upaya Kartini melalui tulisan membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan fisik. "Kartini menunjukkan bahwa kata-kata mampu menjadi alat perjuangan yang efektif untuk membangun citra bangsa dan memperjuangkan kesetaraan," katanya.
Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana menyampaikan bahwa lokasi Museum Kartini Jepara memiliki nilai historis. Nilai historis tersebut menjadi saksi lahirnya pemikiran R.A. Kartini.
Menurutnya, melalui museum yang berada di kawasan tersebut, masyarakat dapat melihat bagaimana Kartini menuangkan gagasan-gagasannya. "Pemikiran itu menjadi upaya penting dalam mendobrak tradisi pada masanya, sekaligus mendorong peningkatan harkat dan martabat perempuan di Indonesia," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....