BMKG: Puncak Kemarau Agustus Melanda 369 Zona Musim
- 12 Agt 2026 04:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG memprediksi puncak kemarau Agustus terjadi di 369 ZOM atau 48,84 persen daratan Indonesia.
- El Nino memperkuat kondisi kering dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
- Pemerintah daerah didorong memperkuat mitigasi melalui bantuan air, penghematan air, dan informasi iklim.
RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG memprediksi puncak musim kemarau Agustus terjadi di 369 Zona Musim (ZOM), mencakup 48,84 persen daratan Indonesia. Prediksi tersebut mencakup wilayah Indonesia yang mengalami puncak kemarau pada Agustus tahun ini secara luas.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut wilayah sangat panjang mayoritas berada di Nusa Tenggara. Wilayah tersebut mengalami hari tanpa hujan selama 30 hingga 60 hari berturut-turut selama kemarau.
Ardhasena menjelaskan puncak kemarau dan El Nino menekan peluang pembentukan hujan di sejumlah daerah Indonesia. BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih bertahan hingga awal 2027 berdasarkan kondisi iklim terkini.
“Untuk daerah yang berkategori sangat panjang, antara 30 hingga 60 hari itu mayoritas ada di Nusa Tenggara,” ujar Ardhasena Sopaheluwakan dalam dialog bersama PRO 3 RRI, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ardhasena menyampaikan informasi tersebut ketika kondisi kekeringan berkembang di sejumlah wilayah Indonesia saat kemarau. Ia menilai El Nino memperkuat kondisi kering selama musim kemarau yang sedang berlangsung.
Kekeringan meteorologis juga berkembang menjadi kekeringan hidrologis terutama wilayah selatan khatulistiwa Indonesia. “Hadirnya El Nino belakangan itu ikut memperkuat efek kering dari musim kemarau yang sudah terjadi,” ujarnya.
Ardhasena menyampaikan sumber air permukaan menghadapi tekanan akibat defisit hujan di wilayah terdampak kekeringan. Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Ardhasena mengingatkan masyarakat yang bergantung pada sumber air permukaan menghadapi tantangan selama kondisi kering. Pemerintah daerah perlu memperkuat mitigasi melalui koordinasi, bantuan air bersih, penghematan air, dan informasi iklim.
“Masyarakat yang bergantung dengan sumber air permukaan akan mengalami tantangan karena sumber air juga bergantung dari hujan,” tuturnya.
Ardhasena mengatakan upaya penanganan kini diarahkan pada mitigasi dan survival agar masyarakat efisien menggunakan air. Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran lahan, sedangkan sektor pertanian perlu menyesuaikan pola tanam.
“Petani menyesuaikan pola tanamnya. Misalkan dengan tidak menanam sawah, tidak menanam padi, tapi menanam tanaman palawiga,” katanya.
BNPB mencatat karhutla dan kekeringan mendominasi sejumlah kejadian bencana Indonesia pada penghujung Juli hingga awal Agustus. Pemerintah memperkuat pencegahan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca bersama BMKG dan BNPB.
BMKG bersama BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan gambut. Operasi tersebut juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....