Badan Bahasa Kemendikdasmen Angkat Peran Bahasa Ibu dalam Pendidikan

  • 21 Apr 2026 16:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemendikdasmen menyoroti pentingnya bahasa ibu dalam proses pembelajaran awal.
  • Penggunaan bahasa daerah membantu siswa lebih mudah memahami materi pelajaran.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin menyoroti pentingnya bahasa ibu dalam proses pembelajaran awal. Pendekatan ini, menurutnya, efektif meningkatkan pemahaman siswa di berbagai daerah.

Ia mengatakan, penggunaan bahasa daerah membantu siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Hal ini terutama penting bagi siswa di wilayah dengan keragaman bahasa tinggi.

Menurutnya, selain meningkatkan pemahaman, bahasa ibu juga memperkuat identitas budaya siswa. Hal ini dinilai penting dalam membangun karakter generasi muda.

“Penggunaan bahasa ibu membantu siswa memahami pelajaran lebih baik. Ini juga memperkuat identitas budaya dan kepercayaan diri mereka,” ujar Hafid usai gelar wicara di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Adapun gelar wicara ini mengangkat tema “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” yang menjadi bagian pembangunan sumber daya manusia. Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor dan pemerintah daerah.

Badan Bahasa juga menilai praktik baik dari daerah perlu diperluas ke wilayah lain. Setiap daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu contoh daerah dengan semangat literasi tinggi. Meski menghadapi tantangan, upaya peningkatan terus dilakukan secara konsisten.

“Praktik baik dari daerah akan terus kami dorong untuk direplikasi. Ini penting untuk pemerataan kualitas pendidikan nasional,” ujarnya.

Bunda Literasi NTT, Asti Laka Lena menekankan pentingnya gerakan berbasis komunitas. Upaya ini dinilai efektif membangun budaya literasi dari akar rumput.

Ia menyebut keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi penghalang. Masyarakat tetap didorong bergerak melalui kolaborasi dan kreativitas.

Berbagai elemen dilibatkan dalam gerakan literasi di NTT. Mulai dari kader PKK, posyandu, hingga forum taman bacaan masyarakat.

“Keterbatasan tidak boleh menghentikan langkah kami untuk bergerak. Kami terus berjejaring agar literasi tetap tumbuh di masyarakat,” ujar Asti.

Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menumbuhkan minat baca. Orang tua diharapkan menjadi contoh bagi anak-anak mereka.

Pendampingan dilakukan dengan melibatkan ibu-ibu sebagai agen perubahan. Edukasi diberikan agar mereka mampu mendampingi anak belajar.

Tantangan muncul pada anak usia lebih besar yang terpapar gawai. Dibutuhkan pendekatan kreatif agar mereka kembali tertarik pada aktivitas literasi.

“Kami melihat anak-anak sebenarnya memiliki minat yang besar. Tinggal bagaimana kita menghadirkan kegiatan yang menarik bagi mereka,” katanya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....