BMKG: Kemarau 2026 Berisiko Ganggu Pangan Nasional

  • 15 Apr 2026 15:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprediksi kemarau 2026 picu kekeringan luas yang mengancam sektor pangan, termasuk penurunan produksi padi dan gagal tanam.
  • Kekeringan dipicu durasi kemarau lebih panjang, berdampak di 57,2% wilayah Indonesia, serta 56% zona musim mengalami awal kemarau lebih cepat.
  • Kementerian Pertanian menyiapkan mitigasi seperti penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih untuk menjaga produksi pertanian.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi memicu kekeringan luas pada sektor pangan nasional. Demikian disampaikan oleh Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab.

"Risiko utama meliputi penurunan produksi padi, gagal tanam. Serta ancaman terhadap lumbung pangan nasional," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 15 April 2026.

Ia menjelaskan, potensi kekeringan luas dipicu oleh durasi musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal. BMKG memperkirakan kondisi ini akan terjadi di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia, berdasarkan perbandingan data klimatologis jangka panjang.

Selain itu, BMKG mencatat sekitar 56 persen zona musim mengalami awal kemarau yang lebih cepat dibandingkan rata-rata normal. Percepatan tersebut terjadi di berbagai wilayah dengan karakteristik musim yang berbeda.

"BMKG membuat prediksi musim kemarau 2026, salah satu aspek yang kami sampaikan adalah kapan mulai datang musim kemarau. Dan berapa lama atau durasi musim kemarau ini," ucapnya.

Selain sektor pertanian, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi guna menekan risiko kerugian akibat kekeringan panjang tersebut.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau 2026. Upaya ini difokuskan pada penguatan ketersediaan air dan dukungan benih guna menjaga produksi padi tetap optimal.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi musim kemarau. Khususnya melalui penguatan irigasi dan pompanisasi guna menjaga ketersediaan air bagi pertanian.

"Air adalah faktor kunci, karena itu, penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih harus berjalan bersamaan. Agar petani tetap bisa berproduksi secara optimal," katanya, menjelaskan. (Magang/Sarah Maulida)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....