Dampak Kemarau Panjang 2026, Komisi IV Ingatkan Pengelolaan Stok Pangan Nasional
- 13 Apr 2026 12:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengingatkan, pemerintah mengantisipasi dampak musim kemarau panjang tahun 2026
- Politikus Golkar ini pun menyoroti, upaya pemerintah dalam meningkatkan cadangan beras nasional tahun 2026
- Beras tidak bisa disimpan terlalu lama di gudang
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengingatkan, pemerintah mengantisipasi dampak musim kemarau panjang tahun 2026. Terutama, dampak kemarau terkait ketersediaan dan pengelolaan stok pangan nasional.
Politikus Golkar ini pun menyoroti, upaya pemerintah dalam meningkatkan cadangan beras nasional tahun 2026. Namun, ia mengingatkan, bahwa komoditas tersebut memiliki keterbatasan dalam hal daya simpan.
“Beras tidak bisa disimpan terlalu lama di gudang. Dalam tiga hingga empat bulan kualitasnya bisa menurun dan berpotensi rusak,” kata Firman dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Kebijakan menahan stok beras sebagai langkah antisipasi terhadap potensi El Nino, menurutnya, perlu dikaji ulang. Jika distribusi tidak berjalan lancar dan stok disimpan terlalu lama, risiko kerusakan akan meningkat.
“Kalau stok tidak dikelola dengan baik dan terjadi kerusakan, Bulog yang akan menanggung kerugian. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama antara pemerintah dan Bulog,” ucap Firman.
Sebagai langkah antisipatif, Firman mendorong, pengembangan budidaya padi gogo. Karena, padi gogo cocok ditanam untuk menghadapi musim kemarau.
"Program percontohan padi gogo telah dikembangkan oleh akademisi. Dari Institut Pertanian Bogor di Kabupaten Pati, Jawa Tengah," ujar Firman.
Sebelumnya diberitakan, di tengah prediksi musim kemarau lebih awal, sektor pertanian di Kabupaten Majalengka mencatat kinerja positif awal 2026. Hal itu berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka.
Total luas panen sejak Januari hingga Maret 2026 mencapai 31.253 hektare dengan produksi sebesar 204.261 ton gabah. Capaian ini dinilai menjadi modal penting bagi ketahanan pangan daerah di tengah potensi tekanan iklim.
Kepala DKP3 Majalengka, Gatot Sulaeman, menjelaskan, sebagian petani masih berada dalam fase panen Musim Tanam I (MT I). Hal ini, karena keterlambatan tanam sebelumnya akibat curah hujan yang tidak merata.
"Belum seluruh petani menyelesaikan panen MT I. Ada wilayah yang mengalami keterlambatan tanam karena distribusi hujan yang tidak merata," ujar Gatot Sulaeman, Sabtu, 11 April 2026.
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Jatitujuh, Kecamatan Ligung, dan sebagian Kecamatan Kertajati disebut mengalami kendala pasokan air irigasi. Hal ini, berdampak pada mundurnya jadwal tanam.
"Untuk mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih cepat. Petani diimbau segera melakukan tanam Musim Tanam II (MT II) setelah panen MT I selesai," ucap Gatot.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....