Intensitas Hujan Rendah, BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal

  • 15 Apr 2026 14:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dari rata-rata.
  • 64 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, meski tidak seekstrem tahun 1997 saat El Nino kuat.
  • BPBD Kota Blitar mulai melakukan mitigasi dan memetakan wilayah rawan kekeringan serta menyiapkan tandon air

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung panjang dibandingkan rata-rata klimatologis nasional. Kondisi tersebut juga ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata selama tiga dekade terakhir.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini memiliki beberapa indikator berbeda. Ia menjelaskan indikator tersebut meliputi waktu awal musim, durasi musim, dan jumlah curah hujan selama periode kemarau.

"BMKG membuat prediksi musim kemarau 2026, salah satu aspek yang kami sampaikan adalah kapan mulai datang musim kemarau. Dan berapa lama atau durasi musim kemarau ini," ucapnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 15 April 2026.

BMKG mencatat sebanyak 56 persen zona musim mengalami kemarau lebih awal dibandingkan dengan kondisi normal sebelumnya. Awal musim kemarau di sejumlah wilayah bahkan sudah dimulai sejak April dan berlanjut pada Mei.

Selain datang lebih cepat, durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya. Sekitar 56 persen wilayah mengalami peningkatan panjang musim kemarau dibandingkan rata-rata klimatologis sebelumnya.

"Ternyata sekitar 56 persen itu lebih lama dari normal. Durasi musim kemarau ini lebih panjang dari normalnya kalau dibandingkan dengan normalnya," katanya, menjelaskan.

Selain itu, kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 64 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah rata-rata selama musim kemarau.

Ia menegaskan, bahwa kondisi ini tidak berarti menjadi yang paling ekstrem dalam sejarah klimatologi Indonesia. Ia mencontohkan bahwa tahun 1997 memiliki tingkat kekeringan yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

"Contoh misalnya kalau kita bandingkan dengan 97 ketika El Nino kuat. Tahun 1997 jauh lebih kering dibanding tahun 2026 ini," ucapnya.

Sementara itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian nasional. Upaya tersebut meliputi penguatan infrastruktur air, penyesuaian pola tanam, serta penggunaan teknologi efisiensi air di lahan pertanian.

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar mulai memetakan zona rawan kekeringan. Hal itu dilakukan karena adanya peringatan dari BMKG mengenai musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Blitar, Agus Suherli menyebut puluhan titik di tujuh kelurahan jadi fokus antisipasi bencana tahun ini. Wilayah tersebut mayoritas berada di daerah utara, seperti Kelurahan Tanggung dan Kelurahan Sentul.

"Pada tahun 2023 lalu tercatat ada 21 titik di 7 kelurahan yang terdampak. Informasi dari BMKG, kekeringan tahun ini berpotensi lebih kering," ujarnya, menjelaskan.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD kota telah menyiapkan sekitar 26 unit tandon air. Tandon air tersebut didapatkan dari bantuan pemerintah provinsi sejak 2023 hingga 2025 lalu. (Magang/Agnes Claudia Ohoira)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....