Harga Avtur Naik, Arus Kas Maskapai Bergantung Penjualan Tiket
- 09 Apr 2026 13:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kenaikan harga avtur hingga sekitar Rp10.000 per liter menjadi beban utama, sementara arus kas sangat bergantung pada penjualan tiket dan load factor.
- Kebijakan fuel surcharge dan PPN tiket 11 persen ditanggung pemerintah membantu maskapai menjaga keberlangsungan operasional.
- Kenaikan harga tiket tidak signifikan memengaruhi pariwisata karena wisatawan umumnya membeli tiket 27–30 hari sebelum keberangkatan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan harga avtur memberikan tekanan terhadap kondisi keuangan maskapai penerbangan. Namun, arus kas (cash flow) industri ini masih sangat bergantung pada pendapatan dari penjualan tiket pesawat.
Sekjen Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia, Bayu Sutanto, mengatakan kondisi cash flow maskapai saat ini belum bisa dipastikan sepenuhnya. Hal ini karena dampak kenaikan harga tiket terhadap permintaan masih dalam proses penyesuaian.
"Cash flow ini tergantung dari revenue, dari pembelian tiket. Kita belum tahu dampaknya secara penuh dari kenaikan harga ini," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi maskapai sempat terbantu pada periode puncak perjalanan beberapa waktu lalu. Tingginya permintaan dan keterisian penumpang (load factor) menjadi penopang sementara bagi pendapatan maskapai.
Namun, lonjakan harga avtur menjadi tantangan utama. Ia menyebut harga avtur mengalami kenaikan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, bahkan mencapai sekitar Rp10.000 per liter.
Kenaikan ini, kata dia, mendorong maskapai untuk melakukan penyesuaian biaya tambahan atau fuel surcharge. Dari sisi kebijakan, pemerintah turut memberikan dukungan melalui insentif fiskal.
"PPN untuk tiket sebesar 11 persen ditanggung pemerintah, ini sangat membantu," ujarnya, menekankan. Selain itu, kebijakan penyesuaian fuel surcharge juga telah mendapat persetujuan pemerintah sebagai langkah menjaga keberlangsungan industri penerbangan.
Di sisi lain, kenaikan harga tiket pesawat dinilai tidak berdampak signifikan terhadap minat masyarakat untuk berwisata. Hal ini karena sebagian besar wisatawan telah merencanakan perjalanan jauh hari sebelum keberangkatan.
Wakil Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas), Harry Basuki Tjahaja Purnama mengatakan pembelian tiket perjalanan umumnya dilakukan jauh-jauh hari. Rata-rata wisatawan membeli tiket sekitar 27 hingga 30 hari sebelumnya.
"Untuk pariwisata sendiri tidak terlalu kelihatan berpengaruh. Pembelian tiket liburan kita ini kan jarang sekali mepet waktu," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....