Pemerintah Optimalisasi MBG jadi 5 Hari Seminggu, Hemat Anggaran Rp20 Triliun

  • 01 Apr 2026 09:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mengoptimalisasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam rangka efisiensi anggaran negara. MBG yang selama ini diberikan kepada penerima manfaat enam hari akan menjadi lima hari dalam sepekan.

“Pemerintah mendorong optimalisasi daripada program Makan Bergizi Gratis. Program ini diarahkan untuk penyediaan makanan segar selama lima hari dalam seminggu,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers secara daring, Selasa, 31 Maret 2026.

Meski demikian, lanjutnya, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus untuk sekolah asrama, wilayah 3T, dan daerah dengan stunting tinggi. Jadwal pendistribusian MBG akan tetap dilakukan selama enam hari, yakni Senin sampai Sabtu.

Menurutnya, optimalisasi ini merupakan bagian dari kebijakan transformasi budaya kerja dan hemat energi yang mulai diberlakukan pemerintah. Dengan optimalisasi program MBG, pemerintah memperkirakan bisa menghemat anggaran hingga Rp20 triliun.

“Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp20 triliun,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional menegaskan mayoritas anggaran Program Makan Bergizi Gratis langsung menyasar masyarakat. Dari total Rp268 triliun APBN, sebanyak 93 persen dialokasikan untuk peningkatan kualitas gizi nasional.

“Berdasarkan Undang-Undang APBN, BGN mendapatkan Rp268 triliun, bukan Rp335 triliun,” ujar Kepala BGN Dadan Hindayana, Selasa, 31 Maret 2026. Ia menegaskan informasi anggaran Rp335 triliun yang beredar tidak sesuai dengan ketentuan resmi APBN.

Menurutnya, angka Rp335 triliun berasal dari dana cadangan atau standby BA BUN. Sementara dana cadangan kebijakan presiden tercatat sebesar Rp67 triliun.

Dadan menjelaskan sebagian besar anggaran digunakan mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di seluruh Indonesia. Sebanyak 70 persen anggaran dialokasikan untuk pembelian bahan baku pangan dari berbagai sektor ekonomi.

Langkah ini dinilai mampu menggerakkan petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM di daerah. Sedangkan 20 persen anggaran digunakan untuk kebutuhan operasional program MBG di lapangan.

Biaya operasional mencakup listrik, transportasi, serta insentif bagi relawan yang terlibat. BGN mencatat lebih dari 1,2 juta relawan SPPG telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Relawan tersebut memperoleh penghasilan antara Rp2,4 juta hingga Rp3,2 juta setiap bulan. “Mayoritas anggaran kami langsung disalurkan untuk Program MBG,” kata Dadan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....