Pemerintah Proyeksikan Stok Beras Nasional Capai 47,1 Juta Ton 2026

  • 12 Mar 2026 05:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah memproyeksikan total ketersediaan beras nasional sepanjang tahun 2026 mencapai sekitar 47,1 juta ton. Angka tersebut mencerminkan kondisi pasokan yang kuat sekaligus menunjukkan Indonesia berada dalam posisi surplus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, Rachmi Widiriani, mengatakan ketersediaan pangan nasional dipastikan berada dalam kondisi aman sepanjang tahun. “Ketersediaan pangan nasional dipastikan dalam kondisi kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun,” kata Rachmi di Jakarta, Rabu 11 Marer 2026.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Beras per 5 Maret 2026, Bapanas memperkirakan total ketersediaan beras nasional sepanjang tahun ini mencapai sekitar 47,1 juta ton. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sepanjang tahun.

Menurut Rachmi, kebutuhan beras masyarakat Indonesia relatif stabil setiap bulan. Sehingga, posisi stok nasional tetap aman.

“Kebutuhan beras per bulan masyarakat Indonesia relatif stabil di angka 2,5 juta ton. Jadi untuk beras, Indonesia sudah surplus dan kita kuat,” ujarnya.

Secara rinci, proyeksi ketersediaan beras sebesar 47,1 juta ton berasal dari stok awal tahun yang diperkirakan mencapai 12,4 juta ton. Ditambah proyeksi produksi beras nasional 2026 yang ditargetkan mencapai 34,7 juta ton.

Dengan kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 31,1 juta ton, Indonesia masih diproyeksikan memiliki stok akhir tahun hingga 16 juta ton. Kondisi tersebut memperkuat posisi ketersediaan beras nasional, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang berkembang.

Rachmi juga menambahkan, selain beras, beberapa komoditas pangan lain seperti telur ayam dan daging ayam juga berada dalam kondisi surplus.

Pemerintah, lanjutnya, terus memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga melalui penguatan produksi dalam negeri serta pengelolaan pasokan yang terencana.

Jika terdapat komoditas yang masih membutuhkan tambahan dari luar negeri, kebijakan tersebut telah diperhitungkan sejak awal. Guna menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga.

“Jadi jangan khawatir untuk ketersediaan pangan saat ini. Kalau ada komoditas yang memang membutuhkan tambahan dari luar, misalnya bawang putih, maka itu sudah sejak awal diperkirakan,” katanya.

Ia menambahkan, kebutuhan impor dilakukan secara terukur dan diatur waktu kedatangannya agar tidak mengganggu stabilitas harga di dalam negeri. Sementara itu, Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyampaikan sektor pangan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Qodari, kekuatan sektor pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas negara. Terutama, dalam menghadapi potensi krisis global.

“Bapak Presiden dari awal sudah sangat menekankan pentingnya soal swasembada pangan. Pada hari ini kita menjadi saksi betapa pentingnya persiapan yang sudah dilakukan sejak satu setengah tahun lalu,” kata Qodari.

Ia menilai langkah penguatan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah merupakan strategi antisipatif. Guna menghadapi berbagai potensi krisis di masa depan.

Sebelumnya, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan kondisi pangan nasional saat ini berada dalam keadaan aman dan terkendali. Terutama untuk komoditas beras sebagai pangan pokok masyarakat.

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Amran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....