Praktik Baik dan Pendidikan Inklusif Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat
- 04 Mar 2026 14:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat gelombang satu telah melahirkan sejumlah pengajar yang dapat mengajarkan bahasa isyarat Al-Qur’an. Sejak dilaksanakan September 2025, kegiatan itu telah menghasilkan pengajar Al-Qur’an kepada peserta didik penyandang disabiltas tunarungu.
Materi pembelajaran mulai dari pengetahuan Al-Qur’an berbahasa isyarat, pemanfaatan Al-Qur’an berbahasa isyarat dalam pembelajaran. Selain itu, praktik baik seperti pengembangan pembelajaran bahasa isyarat kepada wali murid diajarkan dalam kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat.
Praktik baik itu salah satunya disampaikan Bukhori, Guru SLB Negeri 7 Jakarta. Ia merasa takjub dengan berbagai pengetahuan yang diperoleh usai mengikuti ToT Al-Qur`an Isyarat gelombang satu.
Bukhori mengatakan, mendapat banyak ilmu baru tentang Al-Qur’an berbahasa isyarat. Menurutnya, kehadiran Al-Qur’an berbahasa isyarat merupakan terobosan penting dalam penguatan pendidikan inklusif dan pendidikan agama.
“Puji syukur melalui kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyadang disabilitas tunarungu,” ujar Bukhori.
Ia mengatakan, murid-murid ToT Al-Qur’an Isyarat sangat antusias mengikuti pelajaran. Bahkan, lanjut dia, mereka memahami metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhannya.
SLB Negeri 7 Jakarta sendiri, lanjut dia, secara aktif merangkul para wali murid untuk dapat belajar Al-Qur’an berbahasa isyarat. Menurutnya, penguatan literasi agama akan menjadi sia-sia jika hanya berhenti di ruang kelas tanpa dukungan dari lingkungan rumah.
"Sangat penting bagi orang tua murid untuk paham akan Al-Qur’an Isyarat. Sehingga, pembelajaran agama di rumah juga akan berjalan dengan baik,” kata Bukhori.
Praktik baik ini juga diapresiasi Wita Panca Dewi Annisa, Guru SLB Negeri 3 Jakarta. Menurutnya, penerapan metode isyarat Al-Qur’an membawa perubahan signifikan dalam pendidikan agama di sekolahnya.
Sebagai pendidik yang telah mengabdi selama lima tahun, Wita menjelaskan kehadiran metode isyarat Al-Qur’an memberikan kemampuan baru. Mengajarkan kitab suci dengan cara yang lebih tepat dan mudah dipahami oleh para murid menjadi keterampilan baru bagi guru.
"Sebelumnya kami hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri ke bahasa Al-Qur’an. Setelah mengikuti kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat, kini kami memiliki keterampilan baru untuk mengajarkan mereka dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami," kata Wita.
Dampak nyata ToT Al-Qur’an Isyarat juga dirasakan oleh Nadia Aulia Safira, siswi kelas 9 SLB Negeri 3 Jakarta. Setelah mengikuti program ini, Nadia menunjukkan antusiasme tinggi, terutama selama Ramadan.
Secara mandiri, ia mempraktikkan bacaan Al-Qur’an isyarat setelah salat Subuh tanpa perlu instruksi dari orang tua maupun guru. Lebih dari itu, Nadia juga berperan aktif membantu teman-teman sekelasnya agar dapat bisa membaca Al-Qur’an berbahasa isyarat.
"Nadia adalah anak yang mandiri dan peduli. Di kelas, dia sering membantu teman-temannya saat belajar hijaiah atau membaca doa bersama," kata Wita.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq mengatakan, ToT Al-Qur`an merupakan tanggung jawab moral. Hal ini juga sebagai pemenuhan tanggung jawab moral dan konstitusi yang sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
“Melalui ToT Al-Qur`an Isyarat ini, saya berharap para lulusan pelatihan akan menjadi Mujahid Literasi yang membawa semangat pencerahan dan lingkungan pendidikan yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas seluruh Indonesia,” kata Wamen Fajar, di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....