Kadin Waspadai Penutupan Selat Hormuz Ancam Pasokan BBM dan Gas Indonesia
- 03 Mar 2026 14:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Penutupan Selat Hormuz dinilai berpotensi memberi dampak besar bagi Indonesia. Ketergantungan impor energi dari Timur Tengah menjadi perhatian utama pelaku usaha.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan sekitar 50 persen kebutuhan minyak nasional masih impor. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Arab Saudi, Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab.
“Jadi artinya memang bahwa import minyak kita itu berasal dari Timur Tengah dan semua kapal pengangkutnya, logistiknya itu melewati Selat Hormuz. Artinya dengan tersendatnya itu kita sangat-sangat khawatirkan akan terjadi pengurangan pasokan,” ujar Sarman dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa 3 Maret 2026.
Ia mengatakan jika terjadi pengurangan pasokan maka harga BBM di Indonesia bisa naik. Hal ini juga akan menekan industri Tanah Air, karen selain minyak, Indonesia juga masih mengimpor hampir 50 persen kebutuhan gas dari Timur Tengah.
“Kita lihat gas ini dibutuhkan juga oleh industri dan juga hampir 70 juta masyarakat Indonesia menggunakan tabung gas subsidi pemerintah. Karena bagaimanapun kalau kita bicara masalah BBM dan masalah gas, menyangkut kelangsungan dunia usaha kita,” katanya.
Sarman menegaskan pemerintah perlu mengambil langkah taktis untuk mengantisipasi situasi ini. Terlebih dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi momentum Idulfitri dengan lonjakan kebutuhan energi.
Ia mengingatkan kebutuhan BBM meningkat seiring proyeksi 144 juta masyarakat melakukan perjalanan mudik. Ketersediaan gas dan bahan pokok juga harus dijaga agar harga tetap stabil.
“Kami dari pengusaha akan mendukung semua langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Artinya Pak Menko juga sudah merespon dan sudah juga melakukan langkah-langkah mitigasi,” ujarnya
Langkah mitigasi pemerintah, termasuk upaya diversifikasi sumber impor energi. Komunikasi dengan mitra dagang di luar Timur Tengah dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan.
Menurutnya, kenaikan harga BBM dan gas akan berdampak berantai. Biaya operasional industri meningkat dan berujung pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
“Kalau biaya operasional naik tentu itu akan mempengaruhi harga di pasaran. Kalau harga di pasaran naik tentu ya ini juga akan menekan daya beli masyarakat kita,” katanya.
Jika harga naik, daya beli masyarakat bisa tertekan. Padahal, sekitar 57 persen pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang konsumsi rumah tangga.
Karena itu, ia berharap pemerintah serius menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Dunia usaha juga diminta tetap waspada namun tidak panik menghadapi gejolak global.
“Kita harus memberikan support kepada pemerintah bagaimana mengambil langkah-langkah yang taktis dan strategis. Bagaimana supaya beban kita dapat dicarikan solusinya dari negara-negara sahabat di luar Timur Tengah,” ujar Sarman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....