Menlu Dorong EAS Perkuat Ketahanan Kawasan Indo-Pasifik
- 27 Jul 2026 07:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menlu RI Sugiono menegaskan East Asia Summit (EAS) harus memperkuat ketahanan kawasan Indo-Pasifik melalui kerja sama konkret
- Indonesia menilai dialog di EAS harus menghasilkan kepercayaan, kerja sama, dan ketahanan kawasan
- Indonesia menilai dialog di EAS harus menghasilkan kepercayaan, kerja sama, dan ketahanan kawasan
- Indonesia kembali menyerukan gencatan senjata berkelanjutan di Palestina serta akses kemanusiaan tanpa hambatan
- RI mendorong penguatan EAS di bidang ketahanan energi, pangan, kerja sama maritim, dan penanggulangan kejahatan lintas negara
RRI.CO.ID, Manila – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan pentingnya peran East Asia Summit (EAS) dalam memperkuat ketahanan kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Menurutnya, EAS harus mampu menghasilkan kerja sama konkret untuk menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 di Manila, Filipina, Rabu 23 Juli 2026. Ia mengatakan konflik di berbagai belahan dunia kini berdampak langsung terhadap kawasan, termasuk gangguan di jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz yang memengaruhi perekonomian global.
"Selama dua dekade, EAS telah menjaga ruang dialog tetap terbuka antara ASEAN dan negara-negara besar. Namun, dialog saja tidak cukup. Dialog harus membangun kepercayaan, kepercayaan harus menghasilkan kerja sama, dan kerja sama harus memperkuat ketahanan," kata Sugiono.
Menurutnya, EAS harus tetap berpegang pada hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, serta Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Ia menegaskan penerapan aturan secara selektif tidak akan mampu melindungi kepentingan semua pihak.
"Aturan yang diterapkan secara selektif pada akhirnya tidak akan melindungi siapa pun," ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga kembali menegaskan perhatian terhadap situasi di Timur Tengah, khususnya Palestina.
Sugiono menyerukan gencatan senjata yang berkelanjutan, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta terwujudnya jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Selain itu, kata ia, termasuk penghormatan terhadap hak rakyat Palestina untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri.
"Sentralitas ASEAN bukan mengenai keberpihakan. Sentralitas ASEAN memastikan kawasan kita tetap menjadi platform bagi dialog dan kerja sama," katanya.
Indonesia juga mendorong penguatan kembali EAS agar semakin relevan, responsif, dan mampu menghasilkan kerja sama nyata di bidang ketahanan energi dan pangan, kerja sama maritim, serta penanggulangan kejahatan lintas negara.
"Masa depan Indo-Pasifik tidak akan ditentukan oleh rivalitas, tetapi oleh kemampuan kita untuk bekerja sama. EAS harus tetap bersatu dalam tujuan, teguh pada prinsip, dan efektif dalam tindakan," ujar Sugiono.
East Asia Summit merupakan forum strategis tingkat pemimpin yang dibentuk pada 2005 dan kini beranggotakan 19 negara, terdiri atas 11 negara ASEAN serta delapan mitra dialog ASEAN, yakni Australia, Republik Rakyat Tiongkok, India, Jepang, Republik Korea, Selandia Baru, Rusia, dan Amerika Serikat. Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan Post Ministerial Conferences (AMM/PMC) ke-59 di bawah Keketuaan ASEAN Filipina.
Pertemuan tersebut menghasilkan Chair's Statement of the 16th East Asia Summit Foreign Ministers' Meeting yang menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, Sentralitas ASEAN, serta penguatan kerja sama untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan ketahanan kawasan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....