Halida Hatta Ceritakan Wasiat Terakhir Mendiang Ibunda

  • 17 Feb 2026 15:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta mengungkapkan keinginan terbesar mendiang ibunda tercinta, Rahmi Hatta sebelum wafat. Ia mengatakan bahwa sang ibu ingin merasakan pergantian abad menuju abad ke-21, tepat di tahun 2000.

Hal itu di ungkapannya pada saat peluncuran buku 'Satu Abad Ibu Rahmi Hatta: Pribadi Unik yang Mendidik dan Meneladani'. Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Meutia Hatta sebagai momentum refleksi atas perjalanan kehidupan Rahmi Hatta.

"Sebelum ibu meninggalkan kami semua, ada salah satu keinginannya. Yaitu bisa merasakan pergantian abad ke-20 hingga ke-21," ujarnya di dalam kediaman Bung Hatta, Jakarta Pusat, Senin, 16 Februari 2026.

Ia menambahkan, proses penulisan buku tersebut tidaklah mudah, diperlukan analisis mendalam terhadap setiap fase kehidupan Rahmi Hatta. Ia juga mengungkapkan bahwa sang kakak, Meutia Hatta, merupakan sosok yang sangat sibuk.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan periode 2004–2009, Meutia Hatta, kata dia, tetap menyempatkan diri untuk mengajar. Bahkan, ia beberapa kali melakukan penelitian yang kemudian hasilnya diterbitkan menjadi buku.

Lebih lanjut, keluarga mengenang sosok Rahmi Hatta sebagai pribadi yang selama ini terlihat sederhana. Namun menyimpan keteguhan dan nilai hidup yang relevan hingga kini.

Dalam refleksi yang disampaikan keluarga, nilai-nilai yang diwariskan almarhumah justru semakin terasa maknanya di tengah kondisi saat ini. Salah satu pesan yang selalu diingat adalah keteguhannya dalam menyikapi rezeki.

"Ibu selalu mengatakan, sekecil apa pun rezeki yang diterima, harus tetap disyukuri. Walaupun hanya sebutir biji, itu tetaplah rezeki yang harus diterima dengan rasa syukur," kata Halida.

Menurut keluarga, sikap tersebut menjadi prinsip hidup yang terus ditanamkan Rahmi Hatta kepada anak-anaknya. Ia mengajarkan untuk tidak meremehkan hal kecil serta senantiasa mengandalkan dan mensyukuri setiap pemberian Tuhan.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Hatta, Meutia Hatta, mengatakan bahwa dirinya belum siap menerima kepergian sang ibunda. Pasalnya, sehari sebelumnya almarhumah masih dapat bersenda gurau bersama keluarga, namun keesokan harinya telah berpulang.

"Kami kemudian bertanya-tanya mengapa ibu bisa meninggal. Apakah ibu sakit atau bagaimana, disana kami belum paham," ujarnya.

Sejak kepergiannya, almarhumah meninggalkan begitu banyak kenangan dan warisan berharga bagi keluarga. Untuk mengenang, keluarga sempat menyusun sebuah tulisan kecil yang diterbitkan pada peringatan 100 hari wafatnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....