Gentengisasi Jadi Upaya Pemerintah Tingkatkan Kualitas Hunian
- 04 Feb 2026 09:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Gentengisasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memberikan standar hidup yang nyaman dan asri untuk masyarakat Indonesia. Demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (WamenPKP), Fahri Hamzah.
"Ini sebuah manifesto, untuk mengajak seluruh bangsa memiliki standar hidup yang lebih baik. Yaitup nyaman, asri, sehat, dan bersih," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurutnya, keempat elemen tersebut mencakup kualitas diri, rumah, serta lingkungan tempat tinggal masyarakat. Karena itu, pemerintah menaruh perhatian besar pada kondisi fisik hunian, khususnya bagian atap rumah.
Ia menyoroti penggunaan atap seng yang masih banyak ditemui di permukiman warga. Ia menilai, rumah dengan atap seng cenderung terasa panas dan kurang nyaman untuk ditinggal.
Sebaliknya, penggunaan genteng dinilai lebih mampu menciptakan hunian yang sejuk dan layak. "Orang itu kalau tinggal di bawah seng itu panas," ucapnya, menambahkan.
Selain meningkatkan kualitas hidup, program gentengisasi juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri lokal. Saat ini, produksi genteng dan bata merah sebagian besar masih dilakukan oleh industri masyarakat secara lokal.
"Tapi sejauh ini diproduksi secara lokal, genteng dan bata merah khususnya, sudah baik. Tapi kalau kita berbicara soal industrialisasi, silakan industri besar bermain, tapi beliau juga ingin supaya industri masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka ruang bagi industri besar untuk berperan dalam proses industrialisasi. Namun, di saat yang sama, ia juga ingin agar industri rakyat dan usaha kecil menengah terus berkembang.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto menyampaikan peniadaan seng pada atap rumah adalah pilihan tepat. Meskipun demikian terdapat berbagai tantangan jika program ini diimplementasikan.
"Pada dasarnya, keunggulan atap seng hanya dari sisi harga yang murah dan pemasangannya yang mudah. Namun, kekurangannya cukup besar karena menimbulkan panas," katanya, menjelaskan.
Ia memahami alasan masyarakat masih memilih seng sebagai material atap, terutama karena harganya terjangkau, dan pemasangan yang praktis. Namun, dari sisi penataan dan estetika, penggunaan seng dinilai kurang baik, terutama yang berbahan murah.
"Selain cepat berkarat, kondisi tersebut juga kurang sehat. Ini berdampak pada kenyamanan hunian," ucap Teguh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....