Mengenal Suweg, Bunga Bangkai yang Tinggi Serat
- 24 Nov 2025 13:42 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Amorphophallus Paeoniifolius atau yang dikenal dengan nama lokal Suweg merupakan salah satu tanaman langka yang juga merupakan kerabat bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanium). Dikutip dalam greeners.co, tumbuhan ini memiliki batang semu sehingga menghasilkan umbi batang yang dapat diolah menjadi makanan.
Suweg adalah salah satu tanaman asli Asia Tenggara. Dalam tulisan socfindoconservation.co.id disebutkan suweg sering tumbuh dan banyak dijumpai di hutan kawasan Malaysia, Filipina, dan daerah India tropis bagian Selatan. Di daerah Filipina, umbi suweg banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan dengan diolah menjadi tepung sebagai bahan baku pembuatan roti. Di Jepang, dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan mie instan. Sedangkan di Indonesia, tepung suweg digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue, dan di daerah Jawa sering dikonsumsi sebagai sayuran dan kolak.
Suweg memiliki umbi yang mengandung serat yang tinggi. Dengan konsumsi serat pangan dalam jumlah yang tinggi akan memberi pertahanan pada tubuh manusia terhadap serangan berbagai penyakit. Sehingga dalam laman biodiversitywarriors.kehati.or.id tanaman ini pun dikategorikan memiliki manfaat sebagai tanaman pangan dan pengobatan tradisional.
Selain itu suweg memiliki sifat anti inflamasi, antiracun, mencegah pendarahan, sampai mengobati luka. Umbi yang dimiliki memiliki khasiat sebagai obat bisul dan luka. Juga mampu menurunkan kadar gula darah pada penderita penyakit kencing manis.
Tumbuhan suweg tidak memiliki batang, dan bisa mengeluarkan aroma yang tidak sedap yang berguna menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan. Karena mengeluarkan bau tak sedap, tanaman suweg jarang untuk dibudidayakan.
Akibat jarang dibudidayakan, suweg pun sulit ditemukan di alam. Ia menjadi salah satu spesies bunga bangkai yang berasal dari Indonesia dengan warna yang sangat eksotis merah hingga ungu. Tanaman ini pun sempat menjadi maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap tanggal 5 November. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal keanekaragaman hayati Indonesia yang sudah langka dan bersama untuk melestarikannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....