Liga 4 PSSI Tetap Digelar, meski Mendapatkan Kritik

  • 25 Feb 2026 13:50 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Ketua Umum Panitia Pelaksana (Panpel) Liga 4 PSSI Piala Gubernur Provinsi Papua Tengah, Alfred Fredy Anouw menyoroti 'kritik publik' yang tertuju pada penyelenggaraan liga tahunan dan bergengsi ini.

Hal ini disampaikan Ketua Panpel Alfred Fredy Anouw kerap disapa AFA kepada awak media, Selasa 24 Februari 2026, pagi pukul 10.00 WIT, melalui sambungan pesan WhatsApp.

AFA menjelaskan Iven Liga merupakan kompetisi yang bergulir setiap tahun dan dilaksanakan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dari Liga 1 , Liga 2, Liga 3, dan Liga 4, adalah satu kesatuan iven setahun sekali.

Ia menegaskan bahwa Iven Liga adalah ajang anak-anak muda Papua untuk menunjukan skil dan bakat. Mereka juga akan rutin berolahraga dan Latihan, ini akan terhindar dari hal-hal negatif pada penyakit sosial. Sebab, sangat jarang kalua menjadi penjual bakso, sol sepatu, jualan pentolan, dan lainya.

"Liga 4 ini, bukan hanya sekedar ajang biasa. Tetapi, tempat bagi anak-anak muda Papua menunjukkan skli dan bakat yang selama ini berlatih sepak bola untuk bisa ada di tingkat Liga 2 atau pun Liga 1. Dan, membantu mereka terhindar dari pergaulan bebas," tegasnya.

AFA juga menyampaikan bahwa kalau satu tim bawa minimal 20 pemain maka mereka secara ekonomi sedikit tertolong. Dan, apabila 20 pemain dikalikan 7 tim, maka minimal sudah ada 140 anak-anak Papua bisa mendapatkan sedikit tambahan dana.

Ia berpesan agar meskipun sedikit tetapi, bisa menambah modal usaha sampingan agar berguna lagi.

"Melalui Olahraga dalam hal ini sepak bola, anak-anak muda Papua juga sebagai tempat bagi para pemain bisa menghidup kebutuhan sehar-hari atau juga biaya Pendidikan. Karena, tidak mungkin berjualan Bakso, Pentolan, dan sebagainya," tandasnya.

Ketua Panpel justru menanyakan 'Kritik publik' dengan pesan pembatalan Liga 4 dan harus selesaikan masalah kapiraya maka itu sama sekali tidak ada unsur apa pun.

Ia menyatakan bahwa soal kapiraya sedang dimediasi oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa dengan menghadirkan tiga bupati dari Mimika, Deiyai, dan Dogiyai, beserta tim harmonisasi masing-masing kabupaten tersebut.

"Kalau pembatalan dengan alasan kapiraya itu sudah jauh beda. Soal kapiraya itu, Pemerintah sedang dalam penyelesaian dengan pendekatan adat. Dan, justru melalui sepak bola ini dia dapat menyatukan perbedaan," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....