Kabut Asap Papua Selatan Berdampak pada Jarak Pandang di Mimika.

  • 01 Okt 2026 15:18 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak menemukan titik panas atau hotspot di wilayah Mimika pada 30 September 2026.

Forecaster BMKG Mozes Kilangin Mimika, Dwi Christanto, Kamis 1 Oktober 2026, mengatakan kondisi kabut asap yang terjadi di Mimika diduga berkaitan dengan adanya titik panas di wilayah Papua Selatan, khususnya Merauke.

"Untuk wilayah Timika tidak ada titik panas. Tidak ditemukan hotspot untuk tanggal 30 kemarin. Sementara dari laporan Merauke, titik hotspot di wilayah Papua Selatan cukup banyak dan masih kami pantau setiap hari," ujar Dwi.

Tabel Tingkat Kepercayaan Hotspot:Menampilkan jumlah titik panas berdasarkan tingkat kepercayaan, kamis 01 Oktober 2026.(Foto:Sandra/RRI)

Berdasarkan pemantauan Stasiun Klimatologi Papua Selatan di Merauke, tercatat sebanyak 2.310 titik hotspot pada 30 September 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 165 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 1.920 titik tingkat sedang, dan 225 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Dwi menjelaskan, lamanya kabut asap bertahan di suatu wilayah sulit diprediksi karena sangat bergantung pada sumber api dan kondisi angin. Semakin banyak aktivitas pembakaran yang menghasilkan titik api, semakin besar pula potensi asap menyebar ke wilayah lain.

"Kalau ditanya sampai kapan, karena sumbernya bukan dari kita. Jadi titik apinya sendiri yang harus selesai. Tidak boleh ada lagi pembakaran," katanya.

Dari aspek meteorologi, pola angin di wilayah Indonesia pada umumnya bergerak dari arah timur dan tenggara menuju barat laut hingga utara. Kondisi tersebut memungkinkan asap dari Papua Selatan bergerak menuju wilayah Mimika.

Sementara itu, berdasarkan analisis sebaran asap BMKG per 1 Oktober 2026 pukul 10.00 WIT, pergerakan asap masih terpantau dari wilayah Papua Selatan menuju sejumlah wilayah lainnya. Data sebaran asap tersebut diperbarui secara berkala oleh BMKG Pusat.

Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya potensi curah hujan di Papua Selatan. Berdasarkan prediksi Stasiun Klimatologi Papua Selatan, curah hujan pada 1 hingga 10 Oktober 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah, sekitar 0 hingga 10 milimeter.

Dwi menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh El Nino yang saat ini cukup kuat. Berdasarkan data klimatologi Kabupaten Mimika selama sekitar 30 tahun, curah hujan mulai mengalami penurunan sejak Juni dan dampaknya semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir.

"El Nino sudah sangat kuat, ditambah kemarau, sehingga jumlah curah hujannya sedikit. Dampaknya memang cukup terasa," jelasnya.

Kabut asap juga masih berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Mimika. Dwi mengatakan jarak pandang pada Kamis pagi berada di sekitar 2.000 meter, namun sejumlah penerbangan masih dapat melakukan pendaratan.

Menurutnya, batas jarak pandang untuk pendaratan pesawat bergantung pada ketentuan masing-masing maskapai dan keputusan pilot. BMKG hanya memberikan informasi mengenai kondisi jarak pandang, sedangkan keputusan untuk mendarat, mengalihkan penerbangan, atau menunda penerbangan menjadi kewenangan pilot.

Dwi menambahkan, hujan secara teori dapat membantu mengurangi kabut asap. Namun, apabila sumber asap masih aktif dan angin terus membawa asap dari wilayah lain, hujan di Mimika belum tentu langsung memperbaiki jarak pandang.

"Kalau sumber asapnya terus masuk, meskipun di sini hujan, justru bisa memperburuk jarak pandang. Karena itu, yang paling utama adalah sumber apinya harus dipadamkan," pungkasnya.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....