PELNI Soroti Fasilitas dan Akses Pelabuhan Pumako

  • 30 Sep 2026 15:05 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika – PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Mimika memastikan aspek keselamatan pelayaran menjadi perhatian utama dalam pengoperasian kapal, termasuk saat memasuki Pelabuhan Pumako, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu 30 September 2026.

Kepala Cabang PT PELNI (Persero) Mimika, Sigit Sujatmoko, mengatakan keselamatan pelayaran dilakukan melalui pemeriksaan sertifikasi dan kesehatan awak kapal, dokumen keselamatan, serta kelayakan kapal sebelum berlayar. Kapal PELNI juga menjalani perawatan dan docking secara rutin untuk memastikan tetap layak beroperasi.

Sigit menjelaskan, kondisi alur menuju Pumako sangat dipengaruhi pasang surut air laut, terutama di kawasan muara. Pada kedalaman sekitar 1,2 meter, kapal sudah harus meningkatkan kewaspadaan karena kuatnya pergeseran arus dan sedimentasi lumpur yang berpotensi menyebabkan kapal kandas.

"Kalau kapal kami sudah di 1,2 meter, itu harus berhati-hati. Karena di muara pergeseran arus dan lumpurnya sangat kuat. Kalau bisa di atas 1,2 meter, tentunya lebih aman," ujarnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat kapal PELNI harus bergerak dengan kecepatan rendah ketika melintasi alur menuju Pumako. Langkah itu dilakukan untuk menghindari pergeseran arus yang membawa sedimen lumpur dan dapat mengganggu pergerakan kapal.

Menurut Sigit, pengerukan alur juga perlu menjadi perhatian karena sejumlah bagian perairan di sekitar pelabuhan masih dangkal. Kondisi tersebut membuat ruang gerak kapal untuk melakukan manuver menjadi terbatas, terutama di sisi timur pelabuhan.

"Makanya hanya kapal-kapal tipe seribu seperti KM Sirimau, KM Leuser, atau KM Tatamailau yang bisa masuk ke Pumako. Kalau seperti KM Dobonsolo atau KM Labobar tidak bisa, karena panjang kapalnya membuat ruang untuk berputar sangat riskan," katanya.

Selain alur, PELNI menyoroti kondisi fasilitas dermaga, khususnya rubber fender atau bantalan karet yang berfungsi melindungi badan kapal saat proses sandar. Sigit menyebut sebagian rubber fender telah rusak maupun hilang sehingga kapal berisiko berbenturan langsung dengan beton dermaga.

"Rubber fender di pinggiran dermaga itu banyak yang kosong, hilang dan rusak. Itu sangat riskan dan membahayakan untuk sandaran kapal. Kami sudah bersurat kepada KUPP terkait rubber fender karena itu bagian dari keselamatan," ujarnya.

Sigit menambahkan, perbaikan Pelabuhan Pumako juga perlu memperhatikan fasilitas bagi penumpang, khususnya ruang tunggu dan toilet atau WC. Menurutnya, fasilitas tersebut penting untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang menunggu keberangkatan maupun kedatangan kapal.

Selain kondisi pelabuhan, Sigit berharap pemerintah dan pihak keamanan turut memperhatikan keamanan akses menuju Pelabuhan Pumako. Menurutnya, keamanan di sepanjang jalan menuju pelabuhan perlu ditingkatkan agar penumpang maupun pengantar dapat bepergian dengan aman, mengingat masih terjadi pemalangan di sejumlah titik. Ia berharap pemerintah bersama pihak keamanan dapat mengambil langkah untuk menjaga keamanan dan kelancaran akses menuju Pelabuhan Pumako. (Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....