Karhutla Meningkat, Pemprov Papua Tengah Perkuat Penanganan

  • 21 Agt 2026 21:34 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Pemerintah Provinsi Papua Tengah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyusul meningkatnya titik panas serta kemunculan asap di sejumlah wilayah, khususnya Kabupaten Nabire.

Langkah tersebut dibahas dalam emergency meeting penanganan Karhutla yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah di Nabire, Jumat 21 Agustus 2026. Pertemuan melibatkan BPBD, Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan, Kepolisian, BMKG dan LPP RRI Nabire untuk menyusun langkah penanganan secara terpadu.

Pj Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG, M.H.Kes., mengatakan rapat digelar setelah kondisi asap semakin terlihat dalam beberapa jam terakhir. Komunikasi dengan BNPB dan BMKG juga menunjukkan adanya sejumlah titik kebakaran di Kabupaten Nabire.

“Rapat ini kita lakukan untuk memastikan langkah-langkah cepat apa yang akan kita lakukan,” ujar Silwanus.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga mengidentifikasi kebutuhan sarana pemadaman untuk mempercepat penanganan di lapangan. Kekuatan yang tersedia terdiri dari enam unit mobil pemadam kebakaran milik pemerintah provinsi dan Kabupaten Nabire, serta dua armada milik Kepolisian yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses penyiraman.

Silwanus menyebut pemerintah juga akan mengupayakan mobilisasi sarana tambahan. Salah satunya dengan memanfaatkan mobil tangki milik masyarakat untuk membawa air dan mendukung proses penyiraman di lokasi yang membutuhkan penanganan.

Di sisi lain, Kepala BMKG Nabire, Husein Kamadi, mengingatkan kondisi El Nino dan rendahnya curah hujan turut meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Papua Tengah.

Husein menambahkan, hasil prediksi menunjukkan El Nino masih berpotensi kuat, dengan puncak tertinggi diperkirakan terjadi pada periode September hingga November. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran perlu ditingkatkan.

“Ini prediksi El Nino yang kuat, dan puncaknya El Nino tertinggi itu terjadi pada periode September, Oktober, November. Artinya, di periode ini perlu kita meningkatkan kewaspadaan,” jelas Husein.

Berdasarkan data BMKG, pada 20 Agustus 2026 tercatat 224 titik hotspot di wilayah Provinsi Papua Tengah. Sebanyak 22 titik berada dalam kategori rendah, 196 titik kategori sedang dan enam titik kategori tinggi.

Sementara itu, untuk periode 10 hingga 19 Agustus 2026, BMKG mencatat 113 titik hotspot di Kabupaten Nabire. Rinciannya satu titik kategori rendah, 109 titik kategori sedang dan tiga titik kategori tinggi.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan keberadaan titik api kepada posko BPBD agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat.

Penanganan Karhutla tersebut menjadi penting mengingat periode Agustus hingga September dipandang sebagai masa dengan risiko kebakaran yang tinggi akibat kondisi kering dan rendahnya curah hujan di wilayah Papua Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....