Kampung Nawaripi Mimika Bangun SDM Pemuda lewat Balai Latihan Kerja

  • 29 Mei 2026 08:50 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika - Pemerintah Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) pemuda sekaligus menekan dampak negatif pergaulan bebas dan konsumsi minuman keras (miras).

Kepala Kampung Nawaripi, Norbertus Ditubun, mengatakan kondisi pemuda asli kampung tersebut cukup memprihatinkan karena banyak yang hanya tamat SMA, bahkan ada yang putus sekolah sejak SMP. Kondisi itu menyebabkan banyak pemuda menganggur dan rentan terjerumus ke hal-hal negatif.

Menurut Norbertus, rendahnya pendidikan membuat sebagian pemuda tidak memahami dampak buruk miras bagi kesehatan dan masa depan mereka. Karena itu, pemerintah kampung berinisiatif menghadirkan kegiatan positif melalui pelatihan kerja.

“Kalau dia punya SDM yang bagus, dia tahu mana yang baik dan mana yang berbahaya. Tapi anak-anak yang tidak sekolah tidak punya bekal, mereka tidak tahu kalau minuman keras itu meracuni tubuh,” ujarnya saat ditemui di Kampung Nawaripi.

BLK Kampung Nawaripi didirikan dengan izin dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika. Pada awal pembentukannya, BLK membuka tiga jurusan pelatihan, yakni las (welder), otomotif, dan mebel. Angkatan pertama diikuti sekitar 30 peserta yang menjalani pelatihan selama empat bulan sebelum mengikuti uji kompetensi oleh tenaga ahli dari Balai Latihan Kerja dan Konstruksi PUPR Jayapura.

Peserta yang lulus memperoleh dua jenis sertifikat. Sertifikat standar nasional dari Kementerian PUPR diberikan kepada peserta yang memiliki ijazah SMA atau sederajat, sedangkan sertifikat lokal diberikan kepada peserta putus sekolah yang belum memiliki ijazah.

Norbertus menjelaskan, operasional BLK membutuhkan biaya besar. Pada tahun pertama, kegiatan pelatihan terbantu oleh dukungan dosen dari Politeknik Amamapare Timika yang mengajar secara sukarela. Pemerintah kampung hanya menyiapkan material praktik seperti kayu, besi, kawat las, dan motor bekas.

Namun, pada tahun berikutnya pemerintah kampung harus membayar honor instruktur dengan kemampuan anggaran yang terbatas. Akibatnya, pelatihan hanya mampu membuka satu jurusan, yakni welder.

“Satu tahun pertama gratis. Dosen-dosen S2 Kampus Politeknik Amamapare Timika sumbangkan tenaga pengajar. Tapi tahun kedua kami hanya sanggup satu jurusan saja karena operasionalnya mahal,” jelasnya.

Selain keterbatasan dana, pemerintah kampung juga menghadapi kendala rendahnya minat peserta yang sudah berkeluarga. Untuk menjaga kehadiran mereka selama pelatihan, pemerintah kampung menyediakan sembako setiap sore berupa beras, gula, kopi, mi instan, dan susu.

“Maka kalau tidak begitu, maka besok mereka tidak datang. Alasannya pergi cari makan. Dengan cara ini mereka tetap mau datang,” katanya.

Saat ini BLK Kampung Nawaripi telah memasuki angkatan keempat dengan jumlah peserta sekitar 30 orang. Sebagian besar peserta telah memiliki ijazah SMA. Namun proses pelatihan sementara tertunda menunggu pencairan dana desa untuk melanjutkan kegiatan dan menghadirkan penguji dari BLK PUPR Jayapura.

Operasional BLK sejauh ini masih mengandalkan dana desa dan kerja sama dengan kampung tetangga seperti Kampung Hiripau. Norbertus mengapresiasi Dinas Tenaga Kerja Mimika yang telah memberikan izin operasional, meski menurutnya belum ada bantuan lain yang diberikan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PT Sangar Sarana Baja (SSB) dan PT Sandvik di Mimika yang telah membantu mendukung pelatihan. Pemerintah kampung berharap perusahaan-perusahaan tersebut dapat terus membantu penyediaan material bekas untuk kebutuhan praktik peserta.

Selain melatih pemuda Mimika, BLK Nawaripi juga pernah menerima empat peserta dari Kabupaten Puncak Jaya. Seluruh peserta tersebut berhasil memperoleh sertifikat sebelum kembali ke daerah asal mereka.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....