Jalan Salib Hidup di Mimika oleh OMK St.Stefanus,Mengajak Umat Berani Berkorban
- 03 Apr 2026 11:47 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Mimika – Prosesi Jalan Salib hidup yang diperagakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) St. Stefanus berlangsung khidmat pada Jumat Agung, 3 April 2026. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIT dengan rute dari Gedung Tongkonan menuju Gereja St. Stefanus, Kabupaten Mimika.
Dalam prosesi tersebut, para pemeran menampilkan 14 perhentian Jalan Salib, mulai dari Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, hingga wafat di kayu salib, diturunkan, dan dimakamkan. Setiap perhentian menggambarkan penderitaan Yesus Kristus dalam perjalanan menuju penyaliban, yang menjadi bagian penting dalam permenungan iman umat Katolik.
Jalan Salib, yang juga dikenal sebagai Via Dolorosa, merupakan tradisi doa yang umum dilakukan umat Katolik selama masa prapaskah, khususnya setiap hari Jumat. Prosesi ini menjadi sarana refleksi atas pengorbanan Yesus Kristus demi keselamatan umat manusia, sekaligus mengajak umat untuk menghayati nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ratusan umat Katolik turut ambil bagian dalam prosesi ini dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan. Demi menjaga kelancaran kegiatan, aparat kepolisian dikerahkan untuk mengatur lalu lintas dan memastikan keamanan selama prosesi berlangsung bersama dengan THS-THM St. Stefanus untuk menjaga kemanan prosesi. Selain itu, tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika juga disiagakan untuk memberikan pertolongan apabila ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan seperti kelelahan ataupun pingsan.
Pastor Gabriel Ngga, OFM, dalam keterangannya menyampaikan bahwa dramatiasi Jalan Salib bukan sekedar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi momen untuk memahami makna pengorbanan Yesus. Ia menekankan bahwa Yesus rela mengorbankan diri demi kebaikan manusia dan keselamatan dunia.

Menurutnya, nilai utama dari Jalan Salib adalah keberanian untuk menghadapi tantangan dan kesulitan demi kebaikan bersama. Ia juga mengajak umat, khususnya kaum muda, untuk menjadi pembawa damai di tengah berbagai persoalan, termasuk konflik sosial yang terjadi di sejumlah wilayah Papua.
Selain itu, Pastor Gabriel juga menyoroti pentingnya kesadaran menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Ia mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sebagai umat manusia, sebagaimana diajarkan dalam ensiklik Laudato Si’.
Ia berharap, melalui keterlibatan dalam prosesi ini, para peserta tidak hanya menampilkan drama semata, tetapi juga mampu menghayati dan menerapkan nilai-nilai pengorbanan, kebersamaan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Persiapan kegiatan ini sendiri telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan oleh para OMK, yang juga menjadi sarana mempererat kebersamaan melalui diskusi, latihan, dan kerja sama.
Prosesi Jalan Salib hidup ini akhirnya tiba di Gereja St. Stefanus dengan aman dan lancar, menutup rangkaian kegiatan dengan penuh makna dan kedamaian. (Sandra)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....