Wamenkes: Kasus ISPA 2026 Lebih Tinggi dari Tahun Sebelumnya

  • 30 Agt 2026 20:59 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla selama Juli hingga Agustus 2026.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, sebanyak 4.082 kasus ISPA masih tercatat hingga 27 Agustus 2026. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan angka ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dante menyebut peningkatan kasus mulai terlihat pada awal musim kemarau, khususnya pada periode minggu ke-27 hingga minggu ke-33 atau sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya kewaspadaan pemerintah terhadap karhutla di sejumlah wilayah.

“Kalau teman-teman bisa lihat di grafik itu, ISPA tahun ini lebih banyak daripada ISPA tahun kemarin,” kata Dante dalam konferensi pers Kemenkes, Jumat 28 Agustus 2026.

Menurut Dante, karhutla yang berulang setiap tahun di sejumlah wilayah telah memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Kemenkes mencatat wilayah terdampak karhutla saat ini mencakup tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.

Total populasi yang terdampak karhutla tersebut mencapai 5.419.467 orang. Dante menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian karena karhutla terus berulang di sejumlah daerah selama lebih dari satu dekade.

“Karhutla ini kan berulang, timbul terus, hampir tiap tahun, dari beberapa tahun, lebih dari satu dekade ini selalu muncul di beberapa tempat. Dan ternyata teman-teman bisa lihat, tahun ini angka ISPA-nya lebih besar daripada angka ISPA tahun kemarin,” ujarnya.

Dante menjelaskan pencemaran udara akibat partikel PM2,5 menjadi salah satu risiko kesehatan utama dari karhutla. Paparan partikel tersebut dapat menyebabkan ISPA dan mencetuskan asma, terutama pada masyarakat yang telah memiliki kondisi tersebut.

Kemenkes juga mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada level tidak sehat. Berdasarkan pemantauan pada 27 Agustus 2026 pukul 16.25, kondisi paling berbahaya tercatat di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan indeks kualitas udara lebih dari 300.

Sebagai langkah penanganan, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker ke provinsi serta kabupaten dan kota terdampak. Pemerintah juga menyiagakan tenaga kesehatan, melakukan surveilans penyakit, serta menyiapkan fasilitas kesehatan dan oksigen konsentrator bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.

Dante mengatakan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan secara real time oleh dinas kesehatan di wilayah terdampak. Data tersebut digunakan pemerintah untuk menentukan intervensi kesehatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....