Volatilitas Energi Uji Ketahanan Ekonomi ASEAN
- 31 Mar 2026 01:36 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik kini menjadi ujian terhadap ketahanan ekonomi negara-negara ASEAN. Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada inflasi, biaya produksi, dan nilai tukar.
Melansir Bloomberg Technoz, Shan Saeed dari IQI Global menyebut fenomena ini sebagai shock kondisi finansial yang menyebar luas, bukan sekadar guncangan energi biasa.
Insert Narsum: “Negara dengan ketergantungan impor energi tinggi akan menghadapi tekanan berlapis: inflasi naik, ruang fiskal menyempit, dan mata uang tertekan secara simultan,” ujar Shan Saeed, Senin (30/3/2026).
Menurut Shan, negara-negara yang mengandalkan impor energi, seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Kamboja, berada di posisi rentan. Sementara Indonesia justru unggul, karena struktur ekonominya berbasis komoditas dan memiliki buffer eksternal yang kuat.
Eksportir utama batu bara dengan pangsa sekitar 50% dunia, serta pemain kunci dalam nikel dan minyak sawit, membuat Indonesia mampu meredam efek guncangan global. Bahkan volatilitas harga energi tinggi bisa dimanfaatkan untuk memperkuat neraca eksternal negara.
Shan memprediksi, pasar akan mulai menilai ulang risiko antarnegara ASEAN, membedakan antara ekonomi yang rapuh dan yang resilien. “Dalam tatanan energi global yang baru, sebagian negara akan terpukul, sementara yang lain, seperti Indonesia, mampu memonetisasi volatilitas menjadi keunggulan strategis,” tutup Shan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....