Dua Kasus Kaki Gajah Jadi Perhatian Dinkes Mimika

  • 30 Sep 2026 16:20 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika saat ini masih melakukan surveilans untuk memantau kasus kronis filariasis atau penyakit kaki gajah di wilayah tersebut, Rabu 30 September 2026.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaludin, mengatakan pemberian obat pencegahan massal filariasis saat ini tidak lagi dilakukan secara rutin, kecuali ditemukan kasus positif yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Kamaludin menjelaskan, Mimika telah melalui sejumlah tahapan penilaian untuk memastikan tidak adanya penularan filariasis secara lokal. Pada 2024, Mimika dinyatakan lulus penilaian transmisi penularan lokal.

Selanjutnya, pada 2025, Kementerian Kesehatan melakukan Transmission Assessment Survey (TAS) tahap pertama di 33 lokasi untuk menilai keberadaan penularan filariasis. Hasilnya, Mimika dinyatakan lulus.

Saat ini, Dinas Kesehatan Mimika melanjutkan kegiatan surveilans untuk memantau kemungkinan munculnya kasus baru. Selanjutnya, pada 2027 akan dilakukan TAS tahap kedua di 33 lokasi berbeda untuk memastikan apakah masih terdapat penularan filariasis secara lokal.

“Sekarang kita surveilans, memantau apakah ada kasus-kasus. Nanti tahun 2027 kita akan TAS 2 untuk menilai apakah ada transmisi lokal lagi atau tidak,” ujar Kamaludin.

Kamaludin menyebutkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, ditemukan dua kasus kronis filariasis di Mimika, masing-masing satu kasus di Pasar Sentral Mimika dan satu kasus di Limawarsi.

Menurutnya, pasien dengan kondisi kronis umumnya mengalami pembesaran pada bagian tubuh, terutama kaki. Penanganan dilakukan oleh puskesmas tempat pasien mendapatkan pelayanan, dengan fokus mencegah terjadinya infeksi pada bagian tubuh yang mengalami pembesaran.

“Kalau kasus kronis, kakinya sudah membesar. Itu ditangani sama puskesmas, bagaimana perawatan kakinya supaya tidak infeksi,” jelasnya.

Ia mengatakan, pasien filariasis yang ditemukan di Pasar Sentral dan Limawarsi juga telah mendapatkan pengobatan. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan kasus filariasis akut di Mimika.

Kamaludin menjelaskan, kasus filariasis kronis sering kali baru terlihat ketika pembengkakan pada kaki sudah terjadi. Pada kondisi tersebut, pemeriksaan dapat menunjukkan pasien sudah tidak lagi positif mengalami infeksi aktif, namun pembengkakan yang telah terjadi tidak dapat dikembalikan seperti semula.

“Kalau sudah besar, itu sudah kronis. Biasanya sudah negatif kita periksa. Itu tidak bisa kasih kecil kakinya lagi, operasi juga tidak bisa, jadi hanya bisa perawatan saja,” katanya.

Dinas Kesehatan Mimika akan terus melakukan pemantauan terhadap kasus filariasis. Jika ditemukan kasus, lingkungan sekitar pasien akan diperiksa dan pemberian obat dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya penularan.

Apabila Mimika kembali dinyatakan lulus pada TAS tahap kedua pada 2027, surveilans akan dilanjutkan pada 2028. Kemudian, pada 2029 akan dilakukan TAS tahap ketiga. Jika kembali dinyatakan lulus, Mimika ditargetkan memperoleh sertifikasi bebas filariasis pada 2030.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....